Meningkatkan keimanan dan semangat berkorban

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,

 

Alhamdulillah pagi ini kita dapat berkumpul, menyambut sinar mentari, sejuknya hawa pagi dihiasi alunan takbir, mengagungkan asma Ilahi Rabbi, dirangkai dengan dua raka’at Idul Adha sebagai upaya mendekatkan diri kita kepada Yang Maha kuasa.

Marilah kita bersama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah swt dengan sepenuh hati. Kita niatkan hari ini sebagai langkah awal memulai perjalanan diri mengarungi kehidupan yang lebih baik, lebih rajin, lebih sabar dan lebih taat, seperti yang tercermin dalam kebaikan, kerajinan, kesabaran dan keta’atan Nabi Allah Ibrahim as.

Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah

Hari ini adalah hari yang penuh berkah, hari yang sangat bersejarah bagi umat beragama di seluruh penjuru dunia, dan bagi umat muslim pada khususnya. Karena hari ini merupakan hari kemenangan seorang Nabi penemu konsep ke-tuhidan dalam berketuhanan. Sebuah penemuan maha penting dijagad raya, tak tertandingi nilainya dibandingkan dengan penemuan para santis dan ilmuan. Karena berkat konsep ke-tauhidan yang ditemukan Nabi Ibrahim, manusia dapat menguasai alam dengan menjadinya khalifah di muka bumi ini.

 

 

Setelah Nabi Ibrahim as menyadari bahwa Allah swt adalah – al-wahidul ahadus samad- The Absolute One, Dzat yang paling Esa, maka semenjak itu juga umat manusia tidak dibenarkan menyembah makhluk, seperti matahari, bulan,  bintang, hewan, menyembah pohon batu  dan lain-lain.  Ini artinya manusia telah memposisikan dirinya di atas alam. Ajaran ke-Esa-an yang diprakarsai oleh Nabi Ibrahim telah mengangkat derajat manusia atas alam dan degala isinya.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Tidak berlebihan jika hari ini kita jadikan sebagai hari besar kemanusiaan internasional yang harus diperingati oleh manusia se-jagad raya. Oleh karena itu hari ini adalah momen yang tepat untuk mengenang perjuangan Nabi Allah Ibrahim as dan upayanya menemukan Allah swt. Bagaimana beliau bersusah payah melatih nuraninya, mengasah hatinya, mendalami batinnya untuk mengenal Tuhan Allah Yang Paling Berkuasa.

Bukankah itu hal yang amat sangat rumit? Apalagi jika kita membandingkan posisi manusia sebagai makhluk yang hidup dalam dunia kebendaan, sedangkan Allah Tuhan Yang Maha Sirr berada ditempat yang tidak dapat dicapai dengan indera? Bagaimana Nabi Allah Ibrahim bisa menemukan-Nya? Tentunya melalui berbagai jalan thariqah yang panjang.  Melalui latihan dan penempaan jiwa yang berat. Untuk itulah mari kita lihat rekaman tersebut dalam surat Al-An’am ayat 75-79

 

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ(75)  فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ  (76)فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(78)  إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)

 

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. (75)

 

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam “ (76)

 

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (77)

 

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (78)

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (79)

 

 

Para Hadirin yang dimuliakan Allah

 

Jika kita lihat dokumen sejarah yang termaktub dalam al-Qur’an di atas, hal ini menunjukkan betapa proses pencarian yang dilakukan Nabi Allah Ibrahim as sangatlah berat. Meskipun pada akhirnya Nabi Ibrahim berhasil menemukan Tuhan Allah Rabbil Alamin, bukan tuhan untuk satu suku dan bangsa tertentu, tapi Tuhan seru sekalian alam. Tuhan yang senantiasa berada sangat dekat dengan manusia baik ketika terpejam maupun ketika terjaga. Itulah sejarah terbesar yang dilakukan oleh Nabi Allah Ibrahim di sepanjang relief kehidupan umat manusia yang seharusnya selalu dikenang oleh umat beragama.

Selain sebagai orang yang menemukan konsep Ketuhaan. Beliau juga salah satu hamba tersukses di dunia yang mampu menaklukkan nafsu dunyawi demi memenangkan kecintaannya kepada Allah Sang Maha Suci. Fragmen ketaatan dan keikhlasannya untuk menyembelih anak tercinta –Ismail as –  adalah bukti kepasrahan total kepada perintah Allah swt. Bayangkan saudara-saudara, Ismail adalah anak yang telah lama dinanti dan diidamkan, Ismail adalah anak tercintanya, lalu Allah menyuruhnya untuk dihilangkan dengan cara disembelih ayahnya sendiri – ini perintah yang tidak masuk akal, ini perintah yang keterlaluan, ini perintah yang sangat berat  untuk dilaksanakan. Namun demikian semua itu ditundukkan oleh Nabi Ibrahim as demi memenangkan kecintanya kepada Allah swt.

 

 

Nabi Ibrahim  adalah sosok yang penuh dengan keteladanan bagi kita.

Waktu remaja berusaha mencari Tuhan yg hrs disembah. Menyaksikan penduduk zamannya menyembah berhala. Setelah beriman kepada Allah, ia mengadakan reformasi keimanan bagi masyarakatnya.Menumbangkan berhala yang disembah itu.

Waktu dewasa ia melakukan hijrah  dari satu tempat ke tempat lain berdakwah menyebarkan kebenaran ajaran agama Allah.

Sebagai bapak: sabar menjalani hidup. Istri nya siti Sarah tidak dapat memberinya seorang anak, menyuruhnya untuk  nikah dengan siti Hajar seorang pembantunya: dari siti Hajar lahir seorang putera yaitu Ismail.

Ismail adalah putera kesayangan Ibrahim, karena sudah begitu lama ia mendambakan seorang putera.

Kisah nabi Ibrahim dan puteranya Ismail diabadikan  dalam QS as-Safat: 102-107.

فلمابلغمعهالسعيقاليابنيإنيأرىفيالمنامأنيأذبحكفانظرماذاترى. قالياأبتافعلماتومرستجدنيإنشاءاللهمنالصابرين.

 

Di saat putera yang didambakan kehadirannya melalui do’a yang panjang, menginjak usia dewasa, datanglah ujian besar, yang luar biasa beratnya kepada Nabi Ibrahim. Dalam mimpinya, Beliau diperintah menyembelih putera tercintanya oleh Allah: wahai anakku ……

Ismail tipe anak yang patuh kepada orang tua.

Ia tidak sulit memahami keingingan sang ayah. Ia hanya membutuhkan waktu sekejap untuk merenungkan ucapan ayahnya.  Ia langsung merespon niat baik oranhg tua, Dengan berharap bahwa ia akan menjadi orang yang sabar.

Pada saat mereka telah berada di puncak penyerahan diri secara total, Ibrahim dengan mantap meletakkan sebilah pisau  di leher sang anak kesayangannya. Allah berfirman. Qs as-safat 104-107

 

وناديناهأنياإبراهيمقدصدقتالرؤياإناكذالكنجزيالمحسنين. إنهذالهوالبلأالمبين. وفديناهبذبحعظيم.

Dan kami memanggil dia: Ya Ibrahim, kamu telah membenrkan mimpimu itu. Ssg demikianlah kamu memberi balasan kepada orang-orang  yang berbuat baik. Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.

وتركناعليهفيالأخرين. سلامعلىإبراهيم. كذالكنجزيالمحسنين. إنهمنعبادناالمؤمنين.

Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di alangan orang-orang yang datang kemudian. Yaitu kesejahteraan dilimpahkan kepada Ibrahim.

Allahu akbar.

Hikmah dari Idul Adha atau Idul qurban bagi kita.

Pendidikan keluarga/ semangat berkurban di kalangan umat Islam. Untuk kemajuan Islam sejajar dengan umat-umat agama lain.

Kita yang menjadi orang tua,  hendaknya terus berusaha keras mendidik anak-anak menjadi manusia-manusia  yang beriman, berakhlak mulia dan berbudi luhur, memiliki masa depan yang cerah, penuh dengan optimisme berani berjuang menghadapi masa depan yang penuh tantangan.

Bagi para remaja dan anak-anak kami tercinta, hendaknya kalian menjadi anak-anak yang patuh kepada orang tua, hormat kepada guru, tahu adab sopan santun, tidak melawan apalagi menyakiti hati orang tua, yang telah membesarkan kalian.

Adik-adik dan anakku sekalin berusahalah kalian menjadi kebanggan orang tua, menjadi penyejuk hati orang tua, dengan meraih prestasi yang tinggi di dalam pendidikan dan pekerjaan.

Sekali-kali jangan mencoreng nama baik keluarga, atau memalukan orang tua dengan kegiatan yang tercela.

 

 

 

 

 

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Penyembelihan terhadap Ismail yang kemudian diganti dengan kambing merupakan tanda bahwa semenjak itu tidak ada lagi proses penyembahan dengan cara pengorbanan manusia (sesajen). Karena manusia adalah makhluk mulia yang tak pantas dikorbankan secara cuma-cuma, meskipun dilakukan dengan suka rela. Allah swt sendiri yang tidak memperbolehkannya, dengan Kuasa-Nya ia ganti Ismail dengan seekor gibas, kambing.

 

Itulah beberapa hal yang harus dikenang dari Nabi Allah Ibrahim as. Sebagai umat manusia yang beriman dan beragama,  sudah sewajibnya kita mengenang dan meneladani apa yang dilakukan Nabi. Ibahim as seperti yang diterangkan dalam al-Baqarah 127:

 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

 

Dengan kata lain Allah swt menganjurkan manusia untuk mengingat dan meneladai kehidupan Ibrahim terutama ketika Nabi Allah Ibrahim as merawat dan merekontruksi ka’bah sebagai baitullah. Sehingga berbagai ibadah dan ritual peyembahan kepada Allah swt menjadi kewajiban bagi umat muslim sedunia yang mampu menjalankannya. Itulah ibadah Haji.

 

Para Jama’ah idhul adha yang berbahagia

 

Haji merupakan salah satu ibadah yang sarat dengan simbol dan perlambang.

Kaum muslimin dan muslimat, meskipun saat ini kita berada di sini, jauh dari tanah Haram, tidak berarti kita tidak bisa meneladani Nabi Ibrahim. Karena keteladanan itu tidaklah bersifat fisik. Namun sejatinya keteladanan itu berada dalam semangat yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Keteladanan atas ibadah haji dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika kita berinteraksi dengan tetangga, teman, saudara dan umat manusia pada umumnya.

 

Firman Allah dalam alQur’an.

ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا.أل عمران 97

وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتين من كل فج عميق . ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في أيام معلومات على مارزقهم من بهيمة الأنعام  فكلوا منها وأطعموا البائس الفقير.الحج -27-30.

Berserulah kpd manusia  tuk mengerjakan haji, niscaya mrk datang kpdmu dg bjalan kaki dan berkendaraan. Mrk dtng dr segenap penjuru dunia yg jauh.

Spy mrk menyaksikan brbagai manfaat untuk diri mereka, dan spy menyebut nama allah pd hr yang ditentukan, atas rizki yg allah berikan. Berupa  hewan binatang ternak. Makanlah sbgian drpdnya dan sbg lain berikan tuk dimakan orang fakir dn mmbtuhkan.

Saudara-saudaraku seiman yang dirahmati Allah

 

Ibadah Haji dimulai dengan niat yang dibarengi dengan menanggalkan pakaian sehari-hari untuk digantikan dengan dua helai kain putih yang disebut dengan busana ihram. Maka ketahuilah dibalik keseragaman ini tersimpan beragam makna.

Pertama, bahwa pakaian yang selama ini kita pakai sehari-hari sangat menunjukkan derajat dan status sosial kita.  Oleh karena itu, ketika seorang muslim telah berniat untuk haji dan berniat menghadap-Nya maka segeralah tanggalkan pakaian itu dan gantilah dengan busana Ihram yang serba putih, symbol dari kebersihan hati, tak ada perasaan riya iri dan engki, karena manusia di hadapan Ilahi Rabbi sejatinya tidak berbeda.

 

Kedua, Pakaian itu tidak hanya apa yang kita pakai namun juga identitas yang menyelimuti diri manusia dari segala kekurangan. hendaknya segera diluluhkan ketika menghadap-Nya. Allah tidak akan pernah membedakan antara pejabat dan rakyat, antar penguasa dan hamba, antara pedagang, petani, nelayan, bahkan hingga kuli panggul. Semua itu dimata Allah swt adalah sama. Seperti putihnya seragam yang membalut raga.

المسلمون إخوة لافضل لأحد على أحد إلابالتقوى (رواه الطبرانى)

Artinya, orang-orang Islam itu satu sama lain bersaudara, tiada yang lebih utama seorangpun dari seorang yang lain, melainkan karena taqwanya (HR. Tabhrani)

 

Ketiga, Pakaian itu adalah sifat manusia. Ketika seorang muslim telah berniat melakukan ibadah haji, berarti ia akan menghadap Allah Sang Maha Kuasa, hendaklah ia mencopot segala identitasnya. Baik positif maupun negative, yang baik maupun yang buruk. Yang tinggi maupun yang rendah.  Sebagai singa,  kuda, tikus, buaya, serigala ataupun identitas sebagai kupu-kupu, merpati ataupun kasuwari. Artinya, segala macam sifat yang melekat baik negative maupun positif sebaiknya dihilangkan. Jangan pernah merasa sebagai apa-apa jikalau kita menghadap-Nya.

 

Keempat, pakaian itu mengingatkan manusia akan ketakberdayaannya. Nanti ketika menghadap Ilahi Rabbi manusia tidak membawa apa-apa kecuali kain putih yang menemaninya. Sebagai pertanda bahwa sebaiknya manusia hidup dengan sederhana, karena semua akan ditinggalkannya.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Selanjutnya Thowaf mengelilingi ka’bah tujuh kali putaran adalah perlambang kedekatan manusia dengan Sang Khaliq. Begitu harunya jiwa manusia ketika lebur mendekatkan diri pada Baitullah, seolah ke-dirian manusia hilang ditelan kebesaran-Nya. Thowaf dapat diartikan hilangnya diri terhanyut dalam pusaran Energi keilahiyan yang tak terkira. Thowaf adalah simbol hablum minallah yang hakiki, bahkan lebih dari itu. Tidak ada lagi habl penghubung antara manusia dan Sang Khaliq. Karena keduanya telah menyatu.

 

Kemudian sa’i berlari kecil dari shofa ke marwah. Ini merupakan rangkaian setelah Thowaf yang dapat diartikan sesuai perspketif sejarah. Ketika Siti Hajar Ibunda Nabi Ismail ditinggal oleh Nabi Allah Ibrahim as. Maka ia pun harus bertarung mempertahankan hidup ini dengan mencari air dari bukit Shofa ke Marwa. Kehidupan sarat dengan perjuangan. Usaha menjadi suatu kewajiban bagi manusia. Tiada air yang turun dari langit, namun air itu harus dicari sumbernya. Begitulah kehidupan di dunia ini. Hidup itu suci dan harus dijaga seperti makna hafiah kata Shofa  yaitu kemurnian dan kesucian sedangkan. Namun hidup itu juga cita-cita yang jumawa dan penuh idealism seperti makna kata marwa yaitu kemurahan, memaafkan dan menghargai.

 

Jika thowaf menggambarkan hubungan dan kemanunggalan manusia dengan Sang Khaliq, maka sa’i menunjukkan bahwa kehidupan haruslah dijalani sesuai dengan hukum kemanusiaan. Berinteraksi, berhubungan dan berkomunikasi dengan sesame. Maka kehidupan ini haruslah menyeimbangkan antara keilahiyahan dan keinsaniyahan.

Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia

Selain itu simbolisme dalam ibadah haji juga melekat pada Ka’bah Baitullah. Di sana ada hijir Ismail yang berarti ‘pangkuan Ismail’. Di sanalah seorang Ismail putera Ibrahim yang membangun Ka’bah pernah berada dalam pangkuan sang Ibu Hajar, seorang wanita hitam yang miskin juga seorang budak. Dengan ini Allah swt membuktikan bahwa seorang hamba pun dapat dimuliakanya dengan memposisikan kuburnya disamping ka’bah baitullah. Itu semua karena ketaqwaannya. Ketaqwaan Ibu Hajar yang mampu berhijrah menuju kebaikan dan kemuliaan.

 

Sedangkan padang Arafah sebagai tempat para haji menunaikan wuquf merupakan ruang luas yang terhampar untuk melatih diri seorang muslim hingga ia mengenal siapa jati dirinya yang sebenarnya.  Arafah adalah ruang berintrospeksi diri, siapa, dari mana sosok diri itu dan hendak kemana nantinya. Oleh karena itu ruang ini dinamakan arafah yang mempunyai satu asal kata yang sama dengan ma’rifat yaitu mengetahui dan mengerti hakikat diri. Diharapkan setelah dilatih dalam padang arafah ini seorang diri bisa menjadi lebih arif (bijaksana) dalam mengarungi kehidupan dan mempertimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat seperti yang disimbolkan dalam thowaf dan sa’i.

Dari Arafah menuju Muzdalifah guna mempersiapkan diri dan mempersenjatainya dengan mengumpulkan kerikil untuk dilontarkan di jumrah di Mina. Ini merupakan symbol melawan godaan syaithan yang dihadapi manusia.  Manusia haruslah selalu waspada bahwa syaitan ada dimana-mana. Karena itulah senjata pemusnahnya tidaklah sesuatu yang besar dan menakutkan. Tetapi cukup dengan kerikil yang kecil sebagai simbol atas kesabaran dan keteguhan hati.

Ma’asyiral Muslimin

Sebagai kesimpulan dari khutbah ini

Saya mengajak diri saya dan hadirin pada umumnya untuk, dapat mengambil hikmah dari hari raya ini dari idulqurban ini, dari perjuangan dan ketaatan Nabiyullah Ibrahim berkorban melaksanakan perintah Allah.

Dengan Idul Adha ini, Insya allah, kita akan dapat meneladani kebaikan Nabi Ibrahim.Iman kita semakin kokoh, ibadah kita semakin rajin, dan semangat berkorban semakin tinggi

Kita mendabakan Keluarga yang harmonis, saling memahami dan saling mengerti, rumah tidak lagi menjadi tempat yang menggelisahkan, rumah tidak lagi menjadi neraka, tetapi menjadi surga yang penuh bahagia bagi semua anggota keluarga.

Semuanya  saling membantu dan membahagiakan satu sama lain. Rumahku adalah surgaku.

Insya allah akan tercipta keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah di bawah rida Allah swt.

Dari keluarga yang skinah itu, insya allah akan lahir generasi penerus yang cemerlang, dapat meraih sukses  di masa depan.

Dari keluarga-keluarga yang sakinah, akan tumbuh masyarakat yang aman, penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan. Masyarakat yang maju dan menjunjung tinggi akhlakul karimah.

Akhirnya akan tercipta Baldatun tayyibatun wa rabbun gafur.negeri yang adil dan makmur serta dilindungi Allah swt.

Demikianlah uraian dalam khutbah ini semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Dan akhirnya marilah kita semoga kita yang disini diberikan kesempatan melaksanakan ibadah Haji mengunjungi tanah haram di tahun-tahun mendatang, seperti cita-cita kita semua. Dan semoga mereka yang berada di sana diberi keselamatan dan kembali ke tanah air dengan mendapat gelar Haji yang mabrur. Amien

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khutbah Kedua:

 

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ.

والحمد لله رب العالمين.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

 

 

 

 

 

 

Marilah kita memanjatkan doa kepada Allah swt. Untuk kebahagiaan kita dan keluarga kita dunia akhirat.

Allahmmagfir lilmuslimin wal…..

Ampuni dosa orang Islam …..

 

Ya tawwab ya wasi’al magfirah…

Ampuni …dosa kami,  para guru, org2 yg berbuat baik kpd, terutama ortu..

Beri kami kekuatan ….tuk sll mematuhi perintah, dan menjauhi laranganmu.

Terimalah sgala amal ibadah kami, salat, puasa, zakat, haji kami, serta sedekah, qurban kami. Jadikan semuanya menjadi  amal salih yang mendatangkan rahmat dan ridamu di dunia hingga akhirat nanti..

 

Ya muqallibal qulub sabbit qulubana ala dinik wa ala ta’atik.

Jadikan kami … hmb2mu yg salih, yng selalu menjunjung tinggi ajaranmu.

Jadikan keluarga kami …sakinah, mawaddah, rahmah, penuh kasih dan saying dan ridamu.

Jadikan rumah kami  adalah surga bagi kami,  surga bagi suami, istri dan anak-anak kamii

Jadikan anak-anak kami …..salih, sehat jasmani dan rohani, patuh kpd ortu, taat ibadah kpd mu.

Jadikan lingkungan kami, lingkungan yang aman, tenang,  penuh dengan kedamaian dan ketentraman.

Tambahkan kepada kami, rizki yang hll,bnyk, dan berkah agar hdp kami tidak menderita.

 

Rabbana la tu’akhizna in nasina au akhta’na. wala tahmil alaina isran..

Wala tuhammilna mala takata lana bih.

Jangan kau hukum kami jika kami lupa atau salah,

Jangan kau bebankan kpd kami beban berat sbg mana umat sebelum kami.

Jangan kau bebankan kpd kami beban brt yng kami tak kuat memikulnya.

Jauhkan diri kami dari ….. syirik dan dr kufur atas segala nikmatmu.

Jauhkan diri kami dari sifat-sifat buruk, riya, takabur dan iri hati.

 

Rabbana zalamna anfusana ….

Kami telah menzalimi diri kami sendiri,

jika tidak engkai ma’afkan niscaya kami menjadi orang2 yang rugi.

Kami tdk kuat menanggung beban penderitaan atas segala musibah

Kami tk sanggup menerima azab dan cobaan darimu.

Kami tk kuasa menerima murka, dan siksaan darimu.

Andaikan bukan karena kasihmu, niscaya kami menjadi orang yang merugi.

 

Yallah biha bihusnil khatimah

Jadikan akhir hayat kami dalam keadaan husnul khatimah.

Bebas dari penderitaan api neraka,

Diakhirat berhasil meraih  magfirah dan kebahagiaan di dalam  surgamu.

 

Rabana atina …..

Berikanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s