Mystical dialogue in the Taufiq al-Hakim’s Short Story, Titled Arini Allah[1]

Mystical dialogue in the Taufiq al-Hakim’s Short Story, Titled  Arini Allah[1] ,

by : Dr. Fauzan Muslim[2]

Abstract

This paper discusses the short story by Taufiq al – Hakim titled “Arini Allah”. This text depicts a man who wanted to see God. This desire is driven by his son who wanted proof of God’s existence. He went to the hermit to ask. The hermit told him to love God but after successfully loves God, he is still not able to see God because his mind is very limited. He is eventually fainted.

This study discusses the characteristic expressions of dialogue in the text, such as  : 1) dialogue between father and his son  about the existence of God ; 2 ) dialogue between  someone ( father ) who want to see God and the hermit of effort that must be done in order to see God ; 3 ) and a picture of a person ‘s behavior when he  feel very close to God .

By using intertexstual and discource theory , the paper concludes that this story contains a message of Sufism. The essence of God is unlimited, while humans have a very limited capacity . With all its limitations , human beings will not be able to see God . Man can only feel a closeness with God . Conditions closeness to God achieved after he tried hard to love God totally . This text resembles the story of Moses in the Koran . Moses wanted to see God but he failed  though he were praying . Man can only feel closer to God after trying hard to love God above all things . This text also have the same message with the works of other mystics , such as Jalaluddin Rumi’s Matsnawi’s poems,  in Rabi’a al – Adawiyyah’s love’s poems , and Al – Hallaj in a picture of himself with God’s unification .

Keywords: Taufik al-Hakim, Philosophy, sufism, God,  Symbol, Love, Truth.

Pengantar

Cerpen أرني الله  / Arini Allah/ ditulis Taufik al-Hakim pada tahun 1953. Cerpen initerdapat di urutan pertama sebuah antologi cerpen yang memuat 19  cerpen. Judulnya  yakni  أرني الله  Arini Allah dijadikan judul antologi tersebut. Cerpen ini cukup singkat hanya berjumlah 5 halaman (h.11-16). Sementara judul-judul lain, ada yang hanya 4 halaman ada pula yang belasan halaman, dan jumlah terbanyak adalah 29 halaman berjudul Wajh al-Haqiqah di urutan terakhir (h. 184-213). Terjemahan antologi cerpen ini telah banyak dilakukan, di antaranya oleh Yessi HM Basyaruddin[4] dan Sirsaeba[5].

Dalam sumber bahasa Arab, cerpen ini dikelompokkan dalam cerita filsafat (  قصص فلسفية  /Qisas Falsafiyyah)[6], dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1953. Berdasarkan pengelompokkan itu  ada kemungkinan kesembilan belas cerpen yang ada dalam antologi tersebut juga berhubungan dengan tema filsafat.

Penelitian ini dibatasi pada cerpen Arini Allah dengan tiga alasan. Pertama, karena waktu penelitian yang sangat terbatas; Kedua, karena ada di urutan pertama, judulnya unik sekaligus dijadikan judul depan buku.  Ketiga,  karena cerpen ini digolongkan ke dalam cerita filsafat. Melalui pembacaan awal, dari judulnya saja, cerpen tersebut seakan-akan ingin mengungkapkan misteri hubungan manusia dengan Tuhan, yakni bagaimana manusia bisa melihat Tuhan.

Makalah ini akan membahas ungkapan-ungkapan khas dari dialog antar tokoh. Dialog-dialog tokoh dalam cerpen ini (tokoh anak dan ayah, serta tokoh ayah dan al-Nasik (petapa,  guru spiritual) memperlihatkan adanya keinginan manusia mengetahui eksistensi Tuhan.  Proses usaha semacam ini dalam tradisi Islam termasuk dalam ranah Sufisme. Jadi sangat relevan, jika pembahasan cerpen ini, dihubungkan dengan pengetahuan tentang dunia sufisme, baik yang menyangkut tahapan-tahapan pengetahuan sufi maupun tradisi aktifitas tokoh-tokoh sufi dalam usaha mencapai tahapan-tahapan tersebut, yang berujung pada pencapaian  kedekataan dengan Tuhan, bahkan “menyatu” dengan Tuhan.

Biografi Taufiq al-Hakim

Taufiq al-Hakim, sastrawan Arab terkenal awal abad 20, lahir di Iskandaria, Mesir pada 1903. Ayahnya seorang Hakim keturunan Arab Mesir sementara sang ibu dari keturunan Turki.

Di usianya 16 ia bergabung dalam organisasi pemuda. Ia terlibat dalam sebuah demonstrasi memprotes kebijakan pemerintah Mesir di bawah kepemimpinan Saad Zaglul. Akibatnya, Taufiq sempat dimasukkan ke penjara untuk beberapa bulan. Penjara bagi Taufiq menjadi guru terbaik untuk mengembangkan kreatifitas menulisnya. Sejak itu, ia menulis apa saja yang dialaminya dalam hidupnya.

Di usia ke 19 (1922), ia berhasil menyelesaikan kuliahnya di bidang hukum. Kegiatan menulis terus ia lakukan. Selain menulis cerpen dan esai, ia menulis naskah-naskah drama kemudian dipentaskan di berbagai teater.  Pada tahun 1922 hingga 1928 ia memperoleh beasiswa untuk memperdalam ilmu hukum di Prancis. Sepulangnya dari Perancis, Taufiq membentuk kelompok-kelompok teater untuk mementaskan naskah-naskah dramanya.

Pementasan dramanya berjudul “Ahlul Kahfi” (Penghuni Gua) pada tahun 1932, sangat menarik perhatian bangsa Mesir. Sejak itu ia dianggap sebagai pelopor drama kontemporer di Mesir. Drama tersebut terilhami dari kisah “Ashabul Kahfi” di dalam Al-Quran. Pada tahun berikutnya dipentaskan drama keduanya “Syahrazad”(Kisah Seribu Satu Malam). Drama keduanya juga mendapat sambutan baik dari para sastrawan. Tidak lama kemudian terbit pula novel pertamanya  “Audaturruuh” (kembalinya Sang Arwah)

Pada tahun 1928, Taufiq al Hakim bekerja sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat sampai tahun1934. Kemudian ia menjadi Direktur Pelaksana pada Departemen Pendidikan dan Pengajaran sampai tahun 1939. Ia juga pernah menjabat  direktur pada Departemen Pelayanan Sosial. Meski sibuk dengan kegiatan yang berkaitan dengan jabatannya, ia masih aktif menulis, baik cerpen, novel, maupun naskah drama. Pada tahun 1943 ia mengundurkan diri dari jabatannya di Departemen Sosial. Ia bertekad mengabdikan dirinya hanya di bidang sastra.

Pada tahun 1950, Taufiq diangkat sebagai Direktur Pustaka Nasional Mesir. Lima tahun kemudian, ia menjadi anggota dewan redaksi harian Al-Ahram, bergabung dengan  Najib Mahfouz, Dr. Louis Us, dan Dr. Aisha Abdurrahman. Pada tahun 1955 itu pula ia bergabung di Jam’iyyatul Udaba Mesir, bersama dengan sastrawan terkemuka lainnya, seperti  Thaha Husain,  Husain Fauzi, Mahmoud Taimur, Yahya haqqi, Kamil El Sanawi, Yusuf al-Siba’i, Najib Mahfouz, Ihsan Abdul Quddus, Abdurrahman al-Sharqawi, dan Ahmad Baha`uddin.

Pada tahun 1956 ia diangkat menjadi anggota Majelis Tinggi Sastra dan Seni, dan akhirnya pada tahun 1959 ia menjadi wakil Mesir di UNESCO. Taufiq al-Hakim meninggal dunia pada tahun 1987.

 

Karya Taufiq ak-Hakim

Karya Taufiq al-Hakim cukup banyak. Terdiri dari esai, cerpen, novel, puisi dan drama. Sumber Arab menyebutkan judul karya Taufiq lebih dari 60 buah. Terdiri dari 24 esai; 3 sejarah; 4 judul kumpulan cerpen, 8 judul novel, satu judul puisi, dan 22 judul naskah drama[7]. Dari sejumlah naskah tersebut, tidak kurang dari 37 judul telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, terutama Perancis dan Inggris. Dari sejumlah karyana itu, jenis karya yang paling banyak ditulis adalah naskah drama. Karena itulah para ahli menyebutkan Taufik al-Hakim sebagai pelopor drama Arab modern.

Ungkapan-ungkapan Mistik

Ungkapan-ungkapan mistik yang dimaksudkan di sini ialah ungkapan-ungkapan yang mengandung nilai-nilai tasawuf, menggambarkan pengalaman mistik para sufi yang mendalami ajaran tasawuf,  serta mengungkapkan kerinduan manusia terhadap Tuhan. Nilai dan pengalaman itu bersifat transenden[8], berada di atas pengalaman keseharian dan bersifat supralogis (transenden, sekaligus imanen[9]).

Ungkapan ungkapan mistik dalam cerpen ini dapat dikelompokkan dalam empat rangkaian dialog. Dialog 1 menggambarkan permintaan seorang anak kecil kepada ayahnya agar sang ayah memperlihatkan Tuhan kepadanya. Sang ayah walaupun semula ragu-ragu akhirnya menyatakan kesediaan memenuhi permintaan anaknya itu. Hal ini dapat dilihat dalam dialog berikut.

Dialog 1

 

نظر الرجل يوما إلى طفله وقال : شكرا لله .. أنت لي نعمة من الله

فقال الطفل : “إنك يا أبت  تتحدث كثيرا عن الله  … أرني الله .

لفظها الرجل فاغر الفم ، ذاهل الفكر، فهذا طلب من الطفل، غريب لايدري بم يجيب عنه … وأطرق مليا … ثم التفت إلى ابنه  مترددا كالمخاطب نفسه :

  • تريد أن أريك الله ؟
  • نعم، أرني الله
  • كيف أريك ما لم أره أنا نفسي ؟
  • ولماذا يا أبت لم تره؟
  • لأني لم أفكر في ذلك قبل الآن
  • وإذا ، طلبت إليك أن تذهب لتراه … ثم تريني إياه ؟
  • سأفعل يا بني …. سأفعل …

Suatu hari, seorang laki-laki memandang  putranya dan berkata: “Aku bersyukur kepada Allah. Engkau bagiku adalah bagian dari nikmat Allah.

“Ayah…., Ayah sering berbicara tentang Allah…  Perlihatkan Allah kepadaku”.

Sang Ayah tercengang dan bingung. Karena yang bertanya adalah anak kecil dan pertanyaannya sangat aneh. Ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Ia melangkah hati-hati. Kemudian menoleh kepada anaknya dengan ragu-ragu  seperti bertanya kepada dirinya.

“Engkau ingin aku memperlihatkan Allah kepadamu?”

“Iya, perlihatkan Allah kepadaku”.

“Bagaimana aku bisa memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah aku lihat?”

“Mengapa Ayah belum pernah melihatnya?”

“Karena selama ini aku belum pernah memikirkan hal itu”.

“Kalau begitu, aku minta Ayah pergi untuk melihatnya, setelah itu perlihatkan Allah kepadaku!”

“Akan Ayah lakukan..akan Ayah lakukan”

Dialog di atas memperlihatkan urutan berpikir dua sosok manusia yaitu seorang anak dan ayahnya. Sang anak berpikir kritis dan sang ayah yang tidak berterus terang.  Sifat kritis sang anak terlihat dalam tiga ungkapan, yaitu

  • “Perlihatkan Allah kepadaku”
  • “Mengapa Ayah belum pernah melihat Tuhan?”
  • “Kalau begitu, Aku meminta ayah untuk pergi melihat Tuhan kemudian memberitahu aku”.

Ungkapan 1) adalah permintaan sang anak kepada ayahnya agar sang ayah memperlihatkan Tuhan kepadanya. Permintaan ini diajukan karena sang ayah sering berbicara tentang Tuhan. Dalam hal ini berlaku logika berpikir anak kecil, bahwa seroang anak ingin melihat langsung sesuatu yang sering ia dengar. Dalam hal ini ayah si anak sering membicarakan Tuhan, karena itu ia ingin melihat langsung Tuhan yang sering dibicarakan ayahnya itu.

Ungkapan 2) adalah pertanyaan mengapa sang ayah belum pernah melihat Tuhan. Logika berpikirnya ialah bahwa jika sang ayah sering membicarakan Tuhan, seharusnya sering atau paling tidak, pernah melihatnya, tetapi mengapa di sini sang ayah belum pernah melihat Tuhan.

Ungkapan 3) , meminta kepada ayahnya untuk pergi melihat Tuhan untuk kemudian memberitahukan kepadanya bagaimana sosok Tuhan itu. Ungkapan ini menunjukkan sikap kritis sang anak. Ia tidak begitu saja puas atas jawaban sang ayah yang belum pernah melihat Tuhan. Ia tetap penasaran, ingin melihat Tuhan. Karena itu ia meminta sang ayah pergi melihat Tuhan.

Dialog di atas juga menunjukkan sikap Ayah yang tidak berterus terang terhadap anaknya. Jawaban-jawaban itu menunjukkan logika berpikir seorang  ayah yang unik.  Hal ini terlihat dalam kutipan berikut:

1)“Engkau ingin aku memperlihatkan Allah kepadamu?”

2)“Bagaimana aku bisa memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah aku lihat?”

3)“Karena selama ini aku belum pernah memikirkan hal itu”.

4)“Akan Ayah lakukan..akan Ayah lakukan”

Ungkapan 1) adalah pertanyaan yang diajukan kepada anaknya. Pertanyaan ini ditujukan meminta ketegasan apakah anaknya benar-benar menginginkan agar Allah diperlihatkan kepadanya. Pertanyaan ini diungkapkan setelah ia merasa  bingung bagaimana menjawab pertanyaan  dan memenuhi  permintaan anaknya itu.

Ungkapan 2) dan 3) adalah ungkapan ketidak mampuan sang ayah memenuhi permintaan anaknya, sekaligus mengajukan alasannya.  Akan tetapi ketidak mampuan itu tidak diungkapkan dengan terus terang, “Ayah tidak bisa” atau “Ayah tidak mampu”. Ia hanya bertanya seperti kepada dirinya sendiri. Tidak bisa memperlihatkan Tuhan karena tidak pernah memikirkan tentang bagaimana melihat dan bertemu dengan Tuhan.

Ungkapan 4) menunjukkan sikap sang ayah yang tidak berterus terang. Di satu sisi ia menyatakan tidak mungkin memenuhi permintaan anaknya untuk memperlihatkan Tuhan, tetapi di sisi lain ia menyatakan bahwa ia akan melakukan apa yang diminta anaknya, pergi melihat Tuhan. Jika ia terus terang, misalnya dengan mengatakan “tidak bisa”, atau “tidak akan aku lakukan”, ceritanya akan lain.

Dialog 2

  1. أريد أيها الناسك أن تريني الله .
  2. فأطرق الناسك وأمسك لهيته البيضاء بيده  وقال:
  3. أتعرف معنى ما تقول ؟
  4. نعم ، أريد أن تريني الله .
  5. فقال الناسك بصوته العميق اللطيف :
  6. أيها الرجل … إن الله لا يرى بأدواتنا البصرية  ولا يدرك بحواسنا الجسدية ….. وهل تسبرعمق البحر بالأ صبع التي تسبر عمق الكأس ؟
  7. وكيف أراه ، إذن ؟
  8. إذا تكشف هو لروحك.
  9. ومتى يكتشف لروحي ؟
  10. إذا ظفرت  بمحبته
  1. “Wahai Guru, Aku mohon Guru berkenan memperlihatkan Allah kepadaku”.
  2. Sang Guru mengusap kepalanya kemudian mengusap jenggot putihnya dan berkata:
  3. “Pahamkah engkau tentang arti dari apa yang kamu tanyakan itu?”
  4. “Iya, aku mohon Guru dapat memperlihatkan  Allah kepadaku”
  5. Sang Guru berkata dengan suara lembut dan sopan:
  6. Wahai anak muda … Tuhan tidak dapat dilihat oleh alat penglihatan kita dan tidak dapat dijangkau oleh panca indra kita yang kasar… Apakah engkau dapat mengukur kedalaman laut dengan jemarimu yang hanya dapat mengukur kedalaman gelas?”
  7. “Jadi, bagaimana aku dapat melihat Tuhan?”
  8. “Jika Tuhan terbuka di dalam  batinmu (ruhmu)
  9. “Kapan Tuhan terbuka di batinku?”
  10. “Jika engkau memperoleh cintanya”.

Dialog 2 di atas adalah dialog sang Ayah dan al-Nasik ( Guru Spiritual).

Ungkapan 1)  adalah permintaan agar sang Guru memperlihatkan Tuhan kepada sang Ayah. Ungkapan ini mirip dengan permintaan sang anak di bagian awal terhadap dirinya (laki-laki) .

Ungkapan 2) menunjukkan sikap heran sang Guru atas permintaan tokoh Ayah. Ungkapan ini mirip dengan ungkapan sang anak kepada Ayah. Tokoh ayah maupun Guru menunjukkan keterkejutannya mendengar pertanyaan dan permintaan lawan bicaranya. Kebingunan kedua tokoh ini diperlihatkan dengan tindakan berbeda. Jika sang ayah “melongo” dan “ragu-ragu” dan kebingungan,  Sang Guri mengekspresikan kebingugannya dengan mengusap kepala dan jenggotnya yang sudah memutih.

Ungkapan 3) adalah pertanyaan Sang Guru kepada Ayah untuk mendapat ketegasan tentang apa yang menjadi pertanyaan dan permintaannya.

Ungkapan 4) adalah pengulangan dari ungkapan 1), menunjukkan bahwa tokoh Ayah benar-benar ingin melihat Allah.

Tindakan Kedua tokoh ini (Guru dan sang Ayah) juga di bagian awal mengaku lawan bicaranya dengan mengulangi pertanyaan ssi penanya untuk mendapatkan ketegasan apakah si penanya benar-benar serius bertanya. Jika tokoh Ayah  merasa bingung atas pertanyaan anaknya, dan berusaha menutupi ketidakmampuannya. Tokoh Guru dalam dialog ini  berusaha memenuhi permintaan.

Ungkapan 6) merupakan nasihat Sang Guru kepada sang Ayah  agar mengukur kemampuan dirinya. Bahwa sebagai manusia ia harus merasa memiliki keterbatasan dalam mengenal Tuhan. Keterbatasannya ibarat jari tangan yang hanya dapat mengukur kedalaman gelas. Sementara hakikat Tuhan sangat dalam, bagaikan dalamnya lautan yang tidak mungkin diukur oleh jemari manusia. Dalam nasihat ini ada pertanyaann, “Apakah engkau dapat mengukur kedalaman laut dengan jemarimu yang hanya dapat mengukur kedalaman gelas?”. Dalam Ilmu Ma’ani, pertanyaan ini termasuk  Istifham yang bertujuan melemahkan ( استبطاء  )[10] , artinya tidak mungkin jari manusia dapat mengukur kedalaman laut.

Ungkapan ini juga mengandung pernyataan simbolis. Kata “Jemari”, ‘gelas” dan “lautan” dalam pertanyaan itu mengandung makna simbolis.  “Jemari” merupakan simbol dari kemampuan manusia yang terbatas, “hanya bisa mengukur kedalaman gelas”. “Gelas” adalah simbol dari pengetahuan manusia yang tidak mendalam, mudah  diukur oleh jari maanusia. Sementara, “laut” adalah simbol kedalaman misteri hakikat Tuhan yang sulit dijangkau oleh kemampuan manusia. Ungkapan itu dapat diartikan bahwa kemampuan manusia sangat terbatas, yang hanya mampu mengetahui hal-hal yang terbatas,  tidak mungkin dapat mengukur batas pengetahuan tentang hakikat tuhan, yang sangat dalam seperti kedalaman lautan.

Ungkapan 7) menunjukkan keinginan sang Ayah yang sangat besar untuk melihat Tuhan. Seolah ia tidak menghiraukan nasihat sang Guru. Ia diberitahu bahwa pengetahuannya terbatas, tidak mungkin mampu melihat Tuhan,  tetapi ia tetap ingin melihat Tuhan. Ia bertanya  bagaimana (atau kapan) dapat melihat Tuhan.

Ungkapan 8) menunjukkan sesuatu yang sangat abstrak dan personal, dalam hal hubungan antara Tuhan dan manusia, yakni sebuah kondisi di mana Tuhan terbuka dalam batin manusia. Dengan kata lain manusia dapat melihat Tuhan pada saat Tuhan terbuka dalam baatin yang terdalam pada diri manusia.

Ungkapan 9) mempertanyakan kapan waktu terbukanya Tuhan pada batin manusia.

Ungkapan 10) merupakan jawaban, bahwa terbukanya Tuhan pada diri manusia adalah ketika Tuhan mencintainya. Ungkapan ini merupakan klimaks dari proses raangkaian dan tahapan manusia dalam usahanya bertemu dengan Tuhan. Kata kuncinya adalah “mahabbah” atau cinta ilahi. Dengan kata lain, usaha menempuh pertemuan (melihat) dengan Allah, harus melalui proses, mulai dari merasuknya rasa cita pada Tuhan, kemudian misteri Tuhan terbuka dalam batin manusia, dan setelah itu barulah manusia dapat melihat Tuhan.

 

Dialog 3

 

  1. فسجد الرجل وعفر التراب جبهته وأخذ يد الناسك وتوسل إليه قائلا:يها الناسك الصالح … سل الله أن يرزقني شيئا من محبته !
  2. فجذب الناسك يده برفق وقال :
  3. تواضع أيها الرجل واطلب قليل القليل !
  4. فلأطلب إذن  مقدار درهم من محبته …
  5. يا للطمع … هذا كثير … كثير …
  6. ربع درهم إذن ؟
  7. تواضع … تواضع …!
  8. مثقال ذرة من محبته …
  9. لاتطيق مثقال ذرة منها …!
  10. نصف ذرة إذن ؟
  11. ربما …

 

  1. Pria itu bersujud, hingga dahinya ditaburi tanah. Ia menjangkau tangan Sang Guru sambil berkata: Guruku yang salih, Mintalah kepada Tuhan agar memberikan sebagian cinta-Nya kepadaku.
  2. Sang Guru menarik tangan pria itu.
  3. “Rendah hatilah …. Saudara… mintalah sedikit saja”.
  4. “Baiklah…. aku minta senilai satu dirham saja”.
  5. “Rakus kamu…. Itu terlalu banyak!”
  6. “Seperempat dirham”.
  7. “Rendah hatilah kamu!”
  8. “Sebiji gandum saja”
  9. “Kamu tidak akan kuat dengan sebiji gandumt”
  10. “Bagaimana jika seukuran separuh biji gandum”
  11. “Mungkin…”

 

Dialog berikut 3 menunjukkan pergeseran keinginan sang Ayah akibat “nasihat” sang Guru. Keinginan melihat Tuhan berubah menjadi keinginan mendapat Cinta Tuhan.  Jika pada dialog sebelumnya, yang diinginkan oleh tokoh ini adalah melihat Tuhan. Pada dialog ini keinginannya berubah menjadi ingin dicintai Tuhan. Ia menginginkan akan Tuhan mencintainya agar ia bisa melihat Tuhan. Dengan kata lain, ia meyakini bahwa pertemuan dengan Tuhan bisa dicapai jika dirinya memperoleh cinta Tuhan. Karena itu kini keinginannya diarahkan pada turunnya cita Tuhan kepada dirinya. Namun demikian ia tetap meminta sang Guru agar Tuhan menjatuhkan cinta-Nya kepada dirinya.

Dialog di atas menggambarkan usaha  sang Ayah agar diberi limpahan cinta Tuhan, melalui bantuan sang Guru. Dibandingkan dengan dialog sebelumnya, dalam dialog ini   harapan tokoh pria bukan ingin melihat Tuhan, melainkan ingin diberi sebagian cinta Ilahi. Ia berkesimpulan bahwa cinta ilahi dari Tuhan akan menjadi  jalan untuk memasuki posisi “melihat Tuhan”.  Ungkapan 1) merupakan permohonan agar sang Guru meminta kepada Tuhan melimpahkan cinta-Nya kepadanya.

Ungkapan 2)  menunjukkan syarat yang harus dilakukan sang Ayah, yakni harus rendah hati, jangan tamak, dan jangan terburu-buru. Jangan minta diberi cinta dari Tuhan dalam jumlah yang banyak,  tetapi sedikit saja.

Ungkapan 3 sampai 8 menunjukan perbedaan persepsi antara sang Ayah dan  sang Guru dalam masalah ukuran cinta ilahi. Sang Ayah meminta cinta ilahi pertama-tama senilai/seberat satu dirham. Ukuran itu dalam pandangan Sang Guru terlalu besar, sehingga ia menuduh sang Ayah sebagai manusia tamak. Ayah itu memperkecil jumlah cinta ilahi menjadi seperempat dirham (6). Ukuran itu pun masih dianggap terlalu besar, hingga sang Guru kembali mengulangi kata-katanya : “Rendah hatilah-rendah hatilah”(7). Sang Ayah memperkecil lagi cinta ilahi yang dimintanya menjadi seukuran “ biji gandum”, sebuah ukuran yang ringan dan kecil. Namun menurut  Sang Guru masih  terlalu berat, dan ia mengatakan “cinta Tuhan sebiji gandum “  pun terlalu berat. “Kamu tidak akan kuat memikulnya”(8). Akhirnya sang Ayah menawarkan “setengah biji gandum” (9), yang kemudian dijawab oleh Sang Guru “mungkin….” artinya “bolehlah… mungkin kamu akan kuat menerima cinta ilahi seberat setengah biji gandum”. Dialog berakhir dengan uraian narator: sang Guru berdoa kepada Tuhan sebagai berikut:

 

ورفع الناسك رأسه إلى السماء وقال:يارب … ارزقه نصف ذرة من محبتك !

 

Sang Guru menengadahkan  kepalanya ke langit seraya berdo’a: Ya Tuhan berikanlah cintamu kepada orang ini senilai setengah biji gandum”.

 

Akhir cerita

Bagian akhir cerita menggambarkan pengalaman spiritual  sang Ayah setelah didoakan sang guru. Melalui uraian narator, dikisahkan bahwa pria itu pergi meninggalkan sang Guru. Ia tidak pulang ke rumahnya melainkan  ke suatu tempat yang jauh dari keluarganya. Ia terus berkelana hingga seluruh sanak saudaranya mencari ke sebuah gunung. Di sana seorang gembala mengabarkan, bahwa san Ayah  itu berada di  gunung dalam keadaan “gila”.

Keluarga sang Ayah datang mendatangi, hendak menjemputnya, akan tetapi sang Ayah tidak menghiraukan ajakan mereka. Ia dirayu oleh Sang Guru, kemudian oleh sang anak yang sudah lama ditinggalkannya, namun ia tetap diam, tidak menghiraukan semua panggilan itu. Cerita diakhiri dengan dialog 4.

 

Dialog 4

  1. فلم يرد السلام ….. فتقدم الناسك إليه قائلا:
  2. انتبه إلي … أنا الناسك … فلم يتحرك تارجل ،  فتقدم إليه طفله ، وقال بصوته الصغيرالحنون :
  3. يا أبت …. ألا تعرفني ؟
  4. فلم يبد حراكا … وصاحت أسرته وذووه من حوله محاولين إيقاذه ، ولكن الناسك هز رأسه قانطا وقال لهم:
  5. لا جدوى ! … كيف يسمع كلام الآدميين من كان في قلبه نصف ذرة من محبة الله !؟ … والله لو قطعتموه بالمنشار لما علم بذلك !…
  6. وأخذ الطفل يصيح ويقول:
  7. الذنب ذنبي … أنا الذي سألته أن يرى الله !..
  8. فلتفت إليه الناسك وقال وكأنه يخاطب نفسه :
  9. أرأيت ؟ … إن نصف ذرة من نورالله تكفي لتحطيم تركيبنا الآدمي وإطلاف جهازنا العقلي !…

 

  1. Ia tidak membalas ucapan salam…. kemudian Sang Guru maju dan berkata kepadanya:
  2. Perhatikanlah aku. Aku adalah gurumu.  Pria itu tidak bergeming.. Kemudian anaknya maju ke depan, memanggil dengan suara memelas:
  3. “Ayah….. Ayahku, tidakkah mengenal aku?”
  4. Ia tetap tidak bergerak. Seluruh keluarga memanggilnya dan mencoba membangunkannya, akan tetapi Sang Guru berkata :”
  5. “Percuma saja” …. Orang yang diliputi cinta ilahi di hatinya walau seberat setengah biji gandum, tidak akan mampu mendengar panggilan manusia!… Demi Allah, andaikan saja ia dipotong dengan gergaji, ia tidak akan merasaakannya.
  6. Sang anak memanggil manggil lagi:
  7. Akulah yang bersalah,  aku yang berdosa. Akulah yang meminta agar dia memperlihatkan Allah padaku Allah.
  8. Sang Guru menoleh kepada si anak. Ia bergumam seperti berbicara kepada dirinya:
  9. “Ketahuilah ,  Sungguh cinta Ilahi  walau setengah ukuran biji gandum telah cukup menghancurkan organ tubuh kita  dan  merusak  mental spiritual.

 

Dialog 4 di atas merupakan klimaks pengalaman spiritual sang Ayah. Ia mengalami ekstase, yakni tidak sadarkan diri atas segala sesuatu yang ada di luar dirinya. Ia tidak menghiraukan perkataan orang-orang yang memanggilnya. Dalam dialog ini diungkapkan usaha keluarganya dan, terutama anaknya agar sang Ayah kembali ke keadaan normal, meninggalkan perasaan “gila”nya.  Akan tetapi sang Guru menyebutkan bahwa keadaan sang Ayah tidak mungkin kembali normal, karena ia telah telanjur mendapat percikan cinta Ilahi. Menurut sang Guru, percikan cinta yang diperoleh manusia dapat menghancurkan fisik dan merusak mentak manusia. Cerpen ini akhirnya ditutup dengan Ungkapan mistik sang Guru ““Ketahuilah,  sesungguhnya  cinta Ilahi  walau setengah ukuran biji gandum dapat menghancurkan organ tubuh kita  dan  merusak  mental spiritual kita”.

 

Kesimpulan

Setelah melihat keempat rangkaian dialog di atas, dapat disimpulkan bahwa cerpen ini mengungkapkan nilai-nilai dan ajaran sufi, yakni yakni ajaran tentang manusia yang ingin melihat Tuhan, ingin mendapat cinta Tuhan, dan akhirnya merasakan pengalaman sufistik, pengalaman transendent dan imanen, setelah merasa dekat dengan Tuhan.

Tahap akhir dari usaha yang dilakukan yakni pengalaman “mendapat percikan cinta ilahi dan melihat Tuhan” ialah sikap tidak perduli pada dunia nyata, yakni dunia di sekitarnya, termasuk kedatangan dan ajakan keluarganya untuk kembali ke kehidupan nyata.

Pengalaman “aneh” yang dialami sang Ayah dapat dinilai positif, bisa juga negatif. Dilihat dari sisi pribadi tokoh sang Ayah, pengalaman itu menunjukkan keberhasilan, artinya usaha melihat Tuhan berhasil.  Tokoh itu berhasil melihat Tuhan, karena semua tahapan sudah dilaluinya, yaitu mencari guru, mematuhi perintah guru, yang menyebabkan dirinya  “memperolah cita Ilahi”. Walaupun ia tidak sempat menyampaikan pengalamannya kepada anaknya.

Sementara, dilihat dari sisi tokoh lain yang berpikiran normal seperti manusia pada umumnya, pengalaman  sang Ayah, justru negative. Ia mengalami suatu pengalaman yang aneh, melakukan tindakan yang aneh.  memencilkan diri di gunung, tidak peduli terhadap keluarga, termasuk anaknya yang memintanya pulang ke rumah, bahkan dianggap gila oleh para penggembala di hutan.  Sang Ayah telah menjalani kehidupan sufistik dan akhirnya mengalami pengalaman sufisti, sebuah pengalaman yang kontroversial, bagi manusia biasa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Basyaruddin, Yessi HM. Melihat Allah (sebuah Novel Filsafat). Pdf.

Al-Hakim, Taufiq. 1953. Arini Allah. Pdf.

Hadi W.M., Abdul. 1977. “Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Dalam Tergantung Pada Angin. Jakarta: Budaya Jaya.

——- 1984. “Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Dalam Anak Laut Anak Angin. Jakarta.

——- 1999. Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Al-Jarim, Ali. Dan Mustafa amin. 1951. Al-Balagah al-Wadihah, Lubnan: dar al-Ma’arif.

——- 2010 (terj). Al-balaghah al-Wadhihah (terj) Bandung: Sinar Baru Algendindo.

Sirsaeba, Anif. 2008. Dalam Perjamuan Cinta. Jakarta: Penerbit Replubika

 

[1] This Paper presented at the International Scientific Meeting On Arabic Language (ISMLA X), State Islamic University, Pontianak, Indonesia, 2016.

[2] Arabic lecturer of  the Faculty of Humanities, University of Indonesia.

[3] This Paper presented at the International Scientific Meeting On Arabic Language (ISMLA X), State Islamic University, Pontianak, Indonesia, 2016.

[4] https://www.academia.edu/19331100/cerpen_terjemah_arinillah_karya_taufik_al_hakim.

[5] Anif, Sirsabea. 2008. Dalam Perjamuan Cinta. Jakarta: Penerbit Replubika.

[6] Dalam daftar karya Taufiq al-Hakim, ada dua judul lain yang dihubungkan dengan tema filsafat, yakni Hadis ma’a al-Kawkab  ( مع الكوكب   )   dan  Al-Ta’adiliyyah ma’a al-Islam wa al-Ta’adiliyyah (  التعادليه من الإسلام والتعادلية  ) kedua judul ini tidak disebutkan sebagai cerpen, jadi dimungkinkan termasuk teks esai. Lihat al-Hakim, hlm.5.

[7] Al-Hakim, Taufiq.  أرني الله   (pdf), hal. 6-9.

[8] Transenden:  hal-hal yang melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta. Contohnya, pemikiran yang mempelajari sifat Tuhan yang dianggap begitu jauh, berjarak dan mustahil dipahami manusia.

[9] imanen, berarti hal-hal yang meresapi apa pun yang ada, tak ada tempat di dunia ini di mana yang ilahi tidak hadir di situ.

[10]  Jenis pertanyaan untuk tujuan melemahkan dalam Ilmu Ma’ani disebut  istifham istibta ( الاستفهام للا ساتبطاء) , lihat al-Jarim, Ali dkk. Al-Balaghah al-Wadihah. 1951. Hlm.199. dan terjemahan al-Balaghatul Waadihah, 2010. Hal. 278.

Advertisements