Mystical dialogue in the Taufiq al-Hakim’s Short Story, Titled Arini Allah[1]

Mystical dialogue in the Taufiq al-Hakim’s Short Story, Titled  Arini Allah[1] ,

by : Dr. Fauzan Muslim[2]

Abstract

This paper discusses the short story by Taufiq al – Hakim titled “Arini Allah”. This text depicts a man who wanted to see God. This desire is driven by his son who wanted proof of God’s existence. He went to the hermit to ask. The hermit told him to love God but after successfully loves God, he is still not able to see God because his mind is very limited. He is eventually fainted.

This study discusses the characteristic expressions of dialogue in the text, such as  : 1) dialogue between father and his son  about the existence of God ; 2 ) dialogue between  someone ( father ) who want to see God and the hermit of effort that must be done in order to see God ; 3 ) and a picture of a person ‘s behavior when he  feel very close to God .

By using intertexstual and discource theory , the paper concludes that this story contains a message of Sufism. The essence of God is unlimited, while humans have a very limited capacity . With all its limitations , human beings will not be able to see God . Man can only feel a closeness with God . Conditions closeness to God achieved after he tried hard to love God totally . This text resembles the story of Moses in the Koran . Moses wanted to see God but he failed  though he were praying . Man can only feel closer to God after trying hard to love God above all things . This text also have the same message with the works of other mystics , such as Jalaluddin Rumi’s Matsnawi’s poems,  in Rabi’a al – Adawiyyah’s love’s poems , and Al – Hallaj in a picture of himself with God’s unification .

Keywords: Taufik al-Hakim, Philosophy, sufism, God,  Symbol, Love, Truth.

Pengantar

Cerpen أرني الله  / Arini Allah/ ditulis Taufik al-Hakim pada tahun 1953. Cerpen initerdapat di urutan pertama sebuah antologi cerpen yang memuat 19  cerpen. Judulnya  yakni  أرني الله  Arini Allah dijadikan judul antologi tersebut. Cerpen ini cukup singkat hanya berjumlah 5 halaman (h.11-16). Sementara judul-judul lain, ada yang hanya 4 halaman ada pula yang belasan halaman, dan jumlah terbanyak adalah 29 halaman berjudul Wajh al-Haqiqah di urutan terakhir (h. 184-213). Terjemahan antologi cerpen ini telah banyak dilakukan, di antaranya oleh Yessi HM Basyaruddin[4] dan Sirsaeba[5].

Dalam sumber bahasa Arab, cerpen ini dikelompokkan dalam cerita filsafat (  قصص فلسفية  /Qisas Falsafiyyah)[6], dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1953. Berdasarkan pengelompokkan itu  ada kemungkinan kesembilan belas cerpen yang ada dalam antologi tersebut juga berhubungan dengan tema filsafat.

Penelitian ini dibatasi pada cerpen Arini Allah dengan tiga alasan. Pertama, karena waktu penelitian yang sangat terbatas; Kedua, karena ada di urutan pertama, judulnya unik sekaligus dijadikan judul depan buku.  Ketiga,  karena cerpen ini digolongkan ke dalam cerita filsafat. Melalui pembacaan awal, dari judulnya saja, cerpen tersebut seakan-akan ingin mengungkapkan misteri hubungan manusia dengan Tuhan, yakni bagaimana manusia bisa melihat Tuhan.

Makalah ini akan membahas ungkapan-ungkapan khas dari dialog antar tokoh. Dialog-dialog tokoh dalam cerpen ini (tokoh anak dan ayah, serta tokoh ayah dan al-Nasik (petapa,  guru spiritual) memperlihatkan adanya keinginan manusia mengetahui eksistensi Tuhan.  Proses usaha semacam ini dalam tradisi Islam termasuk dalam ranah Sufisme. Jadi sangat relevan, jika pembahasan cerpen ini, dihubungkan dengan pengetahuan tentang dunia sufisme, baik yang menyangkut tahapan-tahapan pengetahuan sufi maupun tradisi aktifitas tokoh-tokoh sufi dalam usaha mencapai tahapan-tahapan tersebut, yang berujung pada pencapaian  kedekataan dengan Tuhan, bahkan “menyatu” dengan Tuhan.

Biografi Taufiq al-Hakim

Taufiq al-Hakim, sastrawan Arab terkenal awal abad 20, lahir di Iskandaria, Mesir pada 1903. Ayahnya seorang Hakim keturunan Arab Mesir sementara sang ibu dari keturunan Turki.

Di usianya 16 ia bergabung dalam organisasi pemuda. Ia terlibat dalam sebuah demonstrasi memprotes kebijakan pemerintah Mesir di bawah kepemimpinan Saad Zaglul. Akibatnya, Taufiq sempat dimasukkan ke penjara untuk beberapa bulan. Penjara bagi Taufiq menjadi guru terbaik untuk mengembangkan kreatifitas menulisnya. Sejak itu, ia menulis apa saja yang dialaminya dalam hidupnya.

Di usia ke 19 (1922), ia berhasil menyelesaikan kuliahnya di bidang hukum. Kegiatan menulis terus ia lakukan. Selain menulis cerpen dan esai, ia menulis naskah-naskah drama kemudian dipentaskan di berbagai teater.  Pada tahun 1922 hingga 1928 ia memperoleh beasiswa untuk memperdalam ilmu hukum di Prancis. Sepulangnya dari Perancis, Taufiq membentuk kelompok-kelompok teater untuk mementaskan naskah-naskah dramanya.

Pementasan dramanya berjudul “Ahlul Kahfi” (Penghuni Gua) pada tahun 1932, sangat menarik perhatian bangsa Mesir. Sejak itu ia dianggap sebagai pelopor drama kontemporer di Mesir. Drama tersebut terilhami dari kisah “Ashabul Kahfi” di dalam Al-Quran. Pada tahun berikutnya dipentaskan drama keduanya “Syahrazad”(Kisah Seribu Satu Malam). Drama keduanya juga mendapat sambutan baik dari para sastrawan. Tidak lama kemudian terbit pula novel pertamanya  “Audaturruuh” (kembalinya Sang Arwah)

Pada tahun 1928, Taufiq al Hakim bekerja sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat sampai tahun1934. Kemudian ia menjadi Direktur Pelaksana pada Departemen Pendidikan dan Pengajaran sampai tahun 1939. Ia juga pernah menjabat  direktur pada Departemen Pelayanan Sosial. Meski sibuk dengan kegiatan yang berkaitan dengan jabatannya, ia masih aktif menulis, baik cerpen, novel, maupun naskah drama. Pada tahun 1943 ia mengundurkan diri dari jabatannya di Departemen Sosial. Ia bertekad mengabdikan dirinya hanya di bidang sastra.

Pada tahun 1950, Taufiq diangkat sebagai Direktur Pustaka Nasional Mesir. Lima tahun kemudian, ia menjadi anggota dewan redaksi harian Al-Ahram, bergabung dengan  Najib Mahfouz, Dr. Louis Us, dan Dr. Aisha Abdurrahman. Pada tahun 1955 itu pula ia bergabung di Jam’iyyatul Udaba Mesir, bersama dengan sastrawan terkemuka lainnya, seperti  Thaha Husain,  Husain Fauzi, Mahmoud Taimur, Yahya haqqi, Kamil El Sanawi, Yusuf al-Siba’i, Najib Mahfouz, Ihsan Abdul Quddus, Abdurrahman al-Sharqawi, dan Ahmad Baha`uddin.

Pada tahun 1956 ia diangkat menjadi anggota Majelis Tinggi Sastra dan Seni, dan akhirnya pada tahun 1959 ia menjadi wakil Mesir di UNESCO. Taufiq al-Hakim meninggal dunia pada tahun 1987.

 

Karya Taufiq ak-Hakim

Karya Taufiq al-Hakim cukup banyak. Terdiri dari esai, cerpen, novel, puisi dan drama. Sumber Arab menyebutkan judul karya Taufiq lebih dari 60 buah. Terdiri dari 24 esai; 3 sejarah; 4 judul kumpulan cerpen, 8 judul novel, satu judul puisi, dan 22 judul naskah drama[7]. Dari sejumlah naskah tersebut, tidak kurang dari 37 judul telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, terutama Perancis dan Inggris. Dari sejumlah karyana itu, jenis karya yang paling banyak ditulis adalah naskah drama. Karena itulah para ahli menyebutkan Taufik al-Hakim sebagai pelopor drama Arab modern.

Ungkapan-ungkapan Mistik

Ungkapan-ungkapan mistik yang dimaksudkan di sini ialah ungkapan-ungkapan yang mengandung nilai-nilai tasawuf, menggambarkan pengalaman mistik para sufi yang mendalami ajaran tasawuf,  serta mengungkapkan kerinduan manusia terhadap Tuhan. Nilai dan pengalaman itu bersifat transenden[8], berada di atas pengalaman keseharian dan bersifat supralogis (transenden, sekaligus imanen[9]).

Ungkapan ungkapan mistik dalam cerpen ini dapat dikelompokkan dalam empat rangkaian dialog. Dialog 1 menggambarkan permintaan seorang anak kecil kepada ayahnya agar sang ayah memperlihatkan Tuhan kepadanya. Sang ayah walaupun semula ragu-ragu akhirnya menyatakan kesediaan memenuhi permintaan anaknya itu. Hal ini dapat dilihat dalam dialog berikut.

Dialog 1

 

نظر الرجل يوما إلى طفله وقال : شكرا لله .. أنت لي نعمة من الله

فقال الطفل : “إنك يا أبت  تتحدث كثيرا عن الله  … أرني الله .

لفظها الرجل فاغر الفم ، ذاهل الفكر، فهذا طلب من الطفل، غريب لايدري بم يجيب عنه … وأطرق مليا … ثم التفت إلى ابنه  مترددا كالمخاطب نفسه :

  • تريد أن أريك الله ؟
  • نعم، أرني الله
  • كيف أريك ما لم أره أنا نفسي ؟
  • ولماذا يا أبت لم تره؟
  • لأني لم أفكر في ذلك قبل الآن
  • وإذا ، طلبت إليك أن تذهب لتراه … ثم تريني إياه ؟
  • سأفعل يا بني …. سأفعل …

Suatu hari, seorang laki-laki memandang  putranya dan berkata: “Aku bersyukur kepada Allah. Engkau bagiku adalah bagian dari nikmat Allah.

“Ayah…., Ayah sering berbicara tentang Allah…  Perlihatkan Allah kepadaku”.

Sang Ayah tercengang dan bingung. Karena yang bertanya adalah anak kecil dan pertanyaannya sangat aneh. Ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Ia melangkah hati-hati. Kemudian menoleh kepada anaknya dengan ragu-ragu  seperti bertanya kepada dirinya.

“Engkau ingin aku memperlihatkan Allah kepadamu?”

“Iya, perlihatkan Allah kepadaku”.

“Bagaimana aku bisa memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah aku lihat?”

“Mengapa Ayah belum pernah melihatnya?”

“Karena selama ini aku belum pernah memikirkan hal itu”.

“Kalau begitu, aku minta Ayah pergi untuk melihatnya, setelah itu perlihatkan Allah kepadaku!”

“Akan Ayah lakukan..akan Ayah lakukan”

Dialog di atas memperlihatkan urutan berpikir dua sosok manusia yaitu seorang anak dan ayahnya. Sang anak berpikir kritis dan sang ayah yang tidak berterus terang.  Sifat kritis sang anak terlihat dalam tiga ungkapan, yaitu

  • “Perlihatkan Allah kepadaku”
  • “Mengapa Ayah belum pernah melihat Tuhan?”
  • “Kalau begitu, Aku meminta ayah untuk pergi melihat Tuhan kemudian memberitahu aku”.

Ungkapan 1) adalah permintaan sang anak kepada ayahnya agar sang ayah memperlihatkan Tuhan kepadanya. Permintaan ini diajukan karena sang ayah sering berbicara tentang Tuhan. Dalam hal ini berlaku logika berpikir anak kecil, bahwa seroang anak ingin melihat langsung sesuatu yang sering ia dengar. Dalam hal ini ayah si anak sering membicarakan Tuhan, karena itu ia ingin melihat langsung Tuhan yang sering dibicarakan ayahnya itu.

Ungkapan 2) adalah pertanyaan mengapa sang ayah belum pernah melihat Tuhan. Logika berpikirnya ialah bahwa jika sang ayah sering membicarakan Tuhan, seharusnya sering atau paling tidak, pernah melihatnya, tetapi mengapa di sini sang ayah belum pernah melihat Tuhan.

Ungkapan 3) , meminta kepada ayahnya untuk pergi melihat Tuhan untuk kemudian memberitahukan kepadanya bagaimana sosok Tuhan itu. Ungkapan ini menunjukkan sikap kritis sang anak. Ia tidak begitu saja puas atas jawaban sang ayah yang belum pernah melihat Tuhan. Ia tetap penasaran, ingin melihat Tuhan. Karena itu ia meminta sang ayah pergi melihat Tuhan.

Dialog di atas juga menunjukkan sikap Ayah yang tidak berterus terang terhadap anaknya. Jawaban-jawaban itu menunjukkan logika berpikir seorang  ayah yang unik.  Hal ini terlihat dalam kutipan berikut:

1)“Engkau ingin aku memperlihatkan Allah kepadamu?”

2)“Bagaimana aku bisa memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah aku lihat?”

3)“Karena selama ini aku belum pernah memikirkan hal itu”.

4)“Akan Ayah lakukan..akan Ayah lakukan”

Ungkapan 1) adalah pertanyaan yang diajukan kepada anaknya. Pertanyaan ini ditujukan meminta ketegasan apakah anaknya benar-benar menginginkan agar Allah diperlihatkan kepadanya. Pertanyaan ini diungkapkan setelah ia merasa  bingung bagaimana menjawab pertanyaan  dan memenuhi  permintaan anaknya itu.

Ungkapan 2) dan 3) adalah ungkapan ketidak mampuan sang ayah memenuhi permintaan anaknya, sekaligus mengajukan alasannya.  Akan tetapi ketidak mampuan itu tidak diungkapkan dengan terus terang, “Ayah tidak bisa” atau “Ayah tidak mampu”. Ia hanya bertanya seperti kepada dirinya sendiri. Tidak bisa memperlihatkan Tuhan karena tidak pernah memikirkan tentang bagaimana melihat dan bertemu dengan Tuhan.

Ungkapan 4) menunjukkan sikap sang ayah yang tidak berterus terang. Di satu sisi ia menyatakan tidak mungkin memenuhi permintaan anaknya untuk memperlihatkan Tuhan, tetapi di sisi lain ia menyatakan bahwa ia akan melakukan apa yang diminta anaknya, pergi melihat Tuhan. Jika ia terus terang, misalnya dengan mengatakan “tidak bisa”, atau “tidak akan aku lakukan”, ceritanya akan lain.

Dialog 2

  1. أريد أيها الناسك أن تريني الله .
  2. فأطرق الناسك وأمسك لهيته البيضاء بيده  وقال:
  3. أتعرف معنى ما تقول ؟
  4. نعم ، أريد أن تريني الله .
  5. فقال الناسك بصوته العميق اللطيف :
  6. أيها الرجل … إن الله لا يرى بأدواتنا البصرية  ولا يدرك بحواسنا الجسدية ….. وهل تسبرعمق البحر بالأ صبع التي تسبر عمق الكأس ؟
  7. وكيف أراه ، إذن ؟
  8. إذا تكشف هو لروحك.
  9. ومتى يكتشف لروحي ؟
  10. إذا ظفرت  بمحبته
  1. “Wahai Guru, Aku mohon Guru berkenan memperlihatkan Allah kepadaku”.
  2. Sang Guru mengusap kepalanya kemudian mengusap jenggot putihnya dan berkata:
  3. “Pahamkah engkau tentang arti dari apa yang kamu tanyakan itu?”
  4. “Iya, aku mohon Guru dapat memperlihatkan  Allah kepadaku”
  5. Sang Guru berkata dengan suara lembut dan sopan:
  6. Wahai anak muda … Tuhan tidak dapat dilihat oleh alat penglihatan kita dan tidak dapat dijangkau oleh panca indra kita yang kasar… Apakah engkau dapat mengukur kedalaman laut dengan jemarimu yang hanya dapat mengukur kedalaman gelas?”
  7. “Jadi, bagaimana aku dapat melihat Tuhan?”
  8. “Jika Tuhan terbuka di dalam  batinmu (ruhmu)
  9. “Kapan Tuhan terbuka di batinku?”
  10. “Jika engkau memperoleh cintanya”.

Dialog 2 di atas adalah dialog sang Ayah dan al-Nasik ( Guru Spiritual).

Ungkapan 1)  adalah permintaan agar sang Guru memperlihatkan Tuhan kepada sang Ayah. Ungkapan ini mirip dengan permintaan sang anak di bagian awal terhadap dirinya (laki-laki) .

Ungkapan 2) menunjukkan sikap heran sang Guru atas permintaan tokoh Ayah. Ungkapan ini mirip dengan ungkapan sang anak kepada Ayah. Tokoh ayah maupun Guru menunjukkan keterkejutannya mendengar pertanyaan dan permintaan lawan bicaranya. Kebingunan kedua tokoh ini diperlihatkan dengan tindakan berbeda. Jika sang ayah “melongo” dan “ragu-ragu” dan kebingungan,  Sang Guri mengekspresikan kebingugannya dengan mengusap kepala dan jenggotnya yang sudah memutih.

Ungkapan 3) adalah pertanyaan Sang Guru kepada Ayah untuk mendapat ketegasan tentang apa yang menjadi pertanyaan dan permintaannya.

Ungkapan 4) adalah pengulangan dari ungkapan 1), menunjukkan bahwa tokoh Ayah benar-benar ingin melihat Allah.

Tindakan Kedua tokoh ini (Guru dan sang Ayah) juga di bagian awal mengaku lawan bicaranya dengan mengulangi pertanyaan ssi penanya untuk mendapatkan ketegasan apakah si penanya benar-benar serius bertanya. Jika tokoh Ayah  merasa bingung atas pertanyaan anaknya, dan berusaha menutupi ketidakmampuannya. Tokoh Guru dalam dialog ini  berusaha memenuhi permintaan.

Ungkapan 6) merupakan nasihat Sang Guru kepada sang Ayah  agar mengukur kemampuan dirinya. Bahwa sebagai manusia ia harus merasa memiliki keterbatasan dalam mengenal Tuhan. Keterbatasannya ibarat jari tangan yang hanya dapat mengukur kedalaman gelas. Sementara hakikat Tuhan sangat dalam, bagaikan dalamnya lautan yang tidak mungkin diukur oleh jemari manusia. Dalam nasihat ini ada pertanyaann, “Apakah engkau dapat mengukur kedalaman laut dengan jemarimu yang hanya dapat mengukur kedalaman gelas?”. Dalam Ilmu Ma’ani, pertanyaan ini termasuk  Istifham yang bertujuan melemahkan ( استبطاء  )[10] , artinya tidak mungkin jari manusia dapat mengukur kedalaman laut.

Ungkapan ini juga mengandung pernyataan simbolis. Kata “Jemari”, ‘gelas” dan “lautan” dalam pertanyaan itu mengandung makna simbolis.  “Jemari” merupakan simbol dari kemampuan manusia yang terbatas, “hanya bisa mengukur kedalaman gelas”. “Gelas” adalah simbol dari pengetahuan manusia yang tidak mendalam, mudah  diukur oleh jari maanusia. Sementara, “laut” adalah simbol kedalaman misteri hakikat Tuhan yang sulit dijangkau oleh kemampuan manusia. Ungkapan itu dapat diartikan bahwa kemampuan manusia sangat terbatas, yang hanya mampu mengetahui hal-hal yang terbatas,  tidak mungkin dapat mengukur batas pengetahuan tentang hakikat tuhan, yang sangat dalam seperti kedalaman lautan.

Ungkapan 7) menunjukkan keinginan sang Ayah yang sangat besar untuk melihat Tuhan. Seolah ia tidak menghiraukan nasihat sang Guru. Ia diberitahu bahwa pengetahuannya terbatas, tidak mungkin mampu melihat Tuhan,  tetapi ia tetap ingin melihat Tuhan. Ia bertanya  bagaimana (atau kapan) dapat melihat Tuhan.

Ungkapan 8) menunjukkan sesuatu yang sangat abstrak dan personal, dalam hal hubungan antara Tuhan dan manusia, yakni sebuah kondisi di mana Tuhan terbuka dalam batin manusia. Dengan kata lain manusia dapat melihat Tuhan pada saat Tuhan terbuka dalam baatin yang terdalam pada diri manusia.

Ungkapan 9) mempertanyakan kapan waktu terbukanya Tuhan pada batin manusia.

Ungkapan 10) merupakan jawaban, bahwa terbukanya Tuhan pada diri manusia adalah ketika Tuhan mencintainya. Ungkapan ini merupakan klimaks dari proses raangkaian dan tahapan manusia dalam usahanya bertemu dengan Tuhan. Kata kuncinya adalah “mahabbah” atau cinta ilahi. Dengan kata lain, usaha menempuh pertemuan (melihat) dengan Allah, harus melalui proses, mulai dari merasuknya rasa cita pada Tuhan, kemudian misteri Tuhan terbuka dalam batin manusia, dan setelah itu barulah manusia dapat melihat Tuhan.

 

Dialog 3

 

  1. فسجد الرجل وعفر التراب جبهته وأخذ يد الناسك وتوسل إليه قائلا:يها الناسك الصالح … سل الله أن يرزقني شيئا من محبته !
  2. فجذب الناسك يده برفق وقال :
  3. تواضع أيها الرجل واطلب قليل القليل !
  4. فلأطلب إذن  مقدار درهم من محبته …
  5. يا للطمع … هذا كثير … كثير …
  6. ربع درهم إذن ؟
  7. تواضع … تواضع …!
  8. مثقال ذرة من محبته …
  9. لاتطيق مثقال ذرة منها …!
  10. نصف ذرة إذن ؟
  11. ربما …

 

  1. Pria itu bersujud, hingga dahinya ditaburi tanah. Ia menjangkau tangan Sang Guru sambil berkata: Guruku yang salih, Mintalah kepada Tuhan agar memberikan sebagian cinta-Nya kepadaku.
  2. Sang Guru menarik tangan pria itu.
  3. “Rendah hatilah …. Saudara… mintalah sedikit saja”.
  4. “Baiklah…. aku minta senilai satu dirham saja”.
  5. “Rakus kamu…. Itu terlalu banyak!”
  6. “Seperempat dirham”.
  7. “Rendah hatilah kamu!”
  8. “Sebiji gandum saja”
  9. “Kamu tidak akan kuat dengan sebiji gandumt”
  10. “Bagaimana jika seukuran separuh biji gandum”
  11. “Mungkin…”

 

Dialog berikut 3 menunjukkan pergeseran keinginan sang Ayah akibat “nasihat” sang Guru. Keinginan melihat Tuhan berubah menjadi keinginan mendapat Cinta Tuhan.  Jika pada dialog sebelumnya, yang diinginkan oleh tokoh ini adalah melihat Tuhan. Pada dialog ini keinginannya berubah menjadi ingin dicintai Tuhan. Ia menginginkan akan Tuhan mencintainya agar ia bisa melihat Tuhan. Dengan kata lain, ia meyakini bahwa pertemuan dengan Tuhan bisa dicapai jika dirinya memperoleh cinta Tuhan. Karena itu kini keinginannya diarahkan pada turunnya cita Tuhan kepada dirinya. Namun demikian ia tetap meminta sang Guru agar Tuhan menjatuhkan cinta-Nya kepada dirinya.

Dialog di atas menggambarkan usaha  sang Ayah agar diberi limpahan cinta Tuhan, melalui bantuan sang Guru. Dibandingkan dengan dialog sebelumnya, dalam dialog ini   harapan tokoh pria bukan ingin melihat Tuhan, melainkan ingin diberi sebagian cinta Ilahi. Ia berkesimpulan bahwa cinta ilahi dari Tuhan akan menjadi  jalan untuk memasuki posisi “melihat Tuhan”.  Ungkapan 1) merupakan permohonan agar sang Guru meminta kepada Tuhan melimpahkan cinta-Nya kepadanya.

Ungkapan 2)  menunjukkan syarat yang harus dilakukan sang Ayah, yakni harus rendah hati, jangan tamak, dan jangan terburu-buru. Jangan minta diberi cinta dari Tuhan dalam jumlah yang banyak,  tetapi sedikit saja.

Ungkapan 3 sampai 8 menunjukan perbedaan persepsi antara sang Ayah dan  sang Guru dalam masalah ukuran cinta ilahi. Sang Ayah meminta cinta ilahi pertama-tama senilai/seberat satu dirham. Ukuran itu dalam pandangan Sang Guru terlalu besar, sehingga ia menuduh sang Ayah sebagai manusia tamak. Ayah itu memperkecil jumlah cinta ilahi menjadi seperempat dirham (6). Ukuran itu pun masih dianggap terlalu besar, hingga sang Guru kembali mengulangi kata-katanya : “Rendah hatilah-rendah hatilah”(7). Sang Ayah memperkecil lagi cinta ilahi yang dimintanya menjadi seukuran “ biji gandum”, sebuah ukuran yang ringan dan kecil. Namun menurut  Sang Guru masih  terlalu berat, dan ia mengatakan “cinta Tuhan sebiji gandum “  pun terlalu berat. “Kamu tidak akan kuat memikulnya”(8). Akhirnya sang Ayah menawarkan “setengah biji gandum” (9), yang kemudian dijawab oleh Sang Guru “mungkin….” artinya “bolehlah… mungkin kamu akan kuat menerima cinta ilahi seberat setengah biji gandum”. Dialog berakhir dengan uraian narator: sang Guru berdoa kepada Tuhan sebagai berikut:

 

ورفع الناسك رأسه إلى السماء وقال:يارب … ارزقه نصف ذرة من محبتك !

 

Sang Guru menengadahkan  kepalanya ke langit seraya berdo’a: Ya Tuhan berikanlah cintamu kepada orang ini senilai setengah biji gandum”.

 

Akhir cerita

Bagian akhir cerita menggambarkan pengalaman spiritual  sang Ayah setelah didoakan sang guru. Melalui uraian narator, dikisahkan bahwa pria itu pergi meninggalkan sang Guru. Ia tidak pulang ke rumahnya melainkan  ke suatu tempat yang jauh dari keluarganya. Ia terus berkelana hingga seluruh sanak saudaranya mencari ke sebuah gunung. Di sana seorang gembala mengabarkan, bahwa san Ayah  itu berada di  gunung dalam keadaan “gila”.

Keluarga sang Ayah datang mendatangi, hendak menjemputnya, akan tetapi sang Ayah tidak menghiraukan ajakan mereka. Ia dirayu oleh Sang Guru, kemudian oleh sang anak yang sudah lama ditinggalkannya, namun ia tetap diam, tidak menghiraukan semua panggilan itu. Cerita diakhiri dengan dialog 4.

 

Dialog 4

  1. فلم يرد السلام ….. فتقدم الناسك إليه قائلا:
  2. انتبه إلي … أنا الناسك … فلم يتحرك تارجل ،  فتقدم إليه طفله ، وقال بصوته الصغيرالحنون :
  3. يا أبت …. ألا تعرفني ؟
  4. فلم يبد حراكا … وصاحت أسرته وذووه من حوله محاولين إيقاذه ، ولكن الناسك هز رأسه قانطا وقال لهم:
  5. لا جدوى ! … كيف يسمع كلام الآدميين من كان في قلبه نصف ذرة من محبة الله !؟ … والله لو قطعتموه بالمنشار لما علم بذلك !…
  6. وأخذ الطفل يصيح ويقول:
  7. الذنب ذنبي … أنا الذي سألته أن يرى الله !..
  8. فلتفت إليه الناسك وقال وكأنه يخاطب نفسه :
  9. أرأيت ؟ … إن نصف ذرة من نورالله تكفي لتحطيم تركيبنا الآدمي وإطلاف جهازنا العقلي !…

 

  1. Ia tidak membalas ucapan salam…. kemudian Sang Guru maju dan berkata kepadanya:
  2. Perhatikanlah aku. Aku adalah gurumu.  Pria itu tidak bergeming.. Kemudian anaknya maju ke depan, memanggil dengan suara memelas:
  3. “Ayah….. Ayahku, tidakkah mengenal aku?”
  4. Ia tetap tidak bergerak. Seluruh keluarga memanggilnya dan mencoba membangunkannya, akan tetapi Sang Guru berkata :”
  5. “Percuma saja” …. Orang yang diliputi cinta ilahi di hatinya walau seberat setengah biji gandum, tidak akan mampu mendengar panggilan manusia!… Demi Allah, andaikan saja ia dipotong dengan gergaji, ia tidak akan merasaakannya.
  6. Sang anak memanggil manggil lagi:
  7. Akulah yang bersalah,  aku yang berdosa. Akulah yang meminta agar dia memperlihatkan Allah padaku Allah.
  8. Sang Guru menoleh kepada si anak. Ia bergumam seperti berbicara kepada dirinya:
  9. “Ketahuilah ,  Sungguh cinta Ilahi  walau setengah ukuran biji gandum telah cukup menghancurkan organ tubuh kita  dan  merusak  mental spiritual.

 

Dialog 4 di atas merupakan klimaks pengalaman spiritual sang Ayah. Ia mengalami ekstase, yakni tidak sadarkan diri atas segala sesuatu yang ada di luar dirinya. Ia tidak menghiraukan perkataan orang-orang yang memanggilnya. Dalam dialog ini diungkapkan usaha keluarganya dan, terutama anaknya agar sang Ayah kembali ke keadaan normal, meninggalkan perasaan “gila”nya.  Akan tetapi sang Guru menyebutkan bahwa keadaan sang Ayah tidak mungkin kembali normal, karena ia telah telanjur mendapat percikan cinta Ilahi. Menurut sang Guru, percikan cinta yang diperoleh manusia dapat menghancurkan fisik dan merusak mentak manusia. Cerpen ini akhirnya ditutup dengan Ungkapan mistik sang Guru ““Ketahuilah,  sesungguhnya  cinta Ilahi  walau setengah ukuran biji gandum dapat menghancurkan organ tubuh kita  dan  merusak  mental spiritual kita”.

 

Kesimpulan

Setelah melihat keempat rangkaian dialog di atas, dapat disimpulkan bahwa cerpen ini mengungkapkan nilai-nilai dan ajaran sufi, yakni yakni ajaran tentang manusia yang ingin melihat Tuhan, ingin mendapat cinta Tuhan, dan akhirnya merasakan pengalaman sufistik, pengalaman transendent dan imanen, setelah merasa dekat dengan Tuhan.

Tahap akhir dari usaha yang dilakukan yakni pengalaman “mendapat percikan cinta ilahi dan melihat Tuhan” ialah sikap tidak perduli pada dunia nyata, yakni dunia di sekitarnya, termasuk kedatangan dan ajakan keluarganya untuk kembali ke kehidupan nyata.

Pengalaman “aneh” yang dialami sang Ayah dapat dinilai positif, bisa juga negatif. Dilihat dari sisi pribadi tokoh sang Ayah, pengalaman itu menunjukkan keberhasilan, artinya usaha melihat Tuhan berhasil.  Tokoh itu berhasil melihat Tuhan, karena semua tahapan sudah dilaluinya, yaitu mencari guru, mematuhi perintah guru, yang menyebabkan dirinya  “memperolah cita Ilahi”. Walaupun ia tidak sempat menyampaikan pengalamannya kepada anaknya.

Sementara, dilihat dari sisi tokoh lain yang berpikiran normal seperti manusia pada umumnya, pengalaman  sang Ayah, justru negative. Ia mengalami suatu pengalaman yang aneh, melakukan tindakan yang aneh.  memencilkan diri di gunung, tidak peduli terhadap keluarga, termasuk anaknya yang memintanya pulang ke rumah, bahkan dianggap gila oleh para penggembala di hutan.  Sang Ayah telah menjalani kehidupan sufistik dan akhirnya mengalami pengalaman sufisti, sebuah pengalaman yang kontroversial, bagi manusia biasa.

 

DAFTAR PUSTAKA

Basyaruddin, Yessi HM. Melihat Allah (sebuah Novel Filsafat). Pdf.

Al-Hakim, Taufiq. 1953. Arini Allah. Pdf.

Hadi W.M., Abdul. 1977. “Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Dalam Tergantung Pada Angin. Jakarta: Budaya Jaya.

——- 1984. “Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Dalam Anak Laut Anak Angin. Jakarta.

——- 1999. Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Al-Jarim, Ali. Dan Mustafa amin. 1951. Al-Balagah al-Wadihah, Lubnan: dar al-Ma’arif.

——- 2010 (terj). Al-balaghah al-Wadhihah (terj) Bandung: Sinar Baru Algendindo.

Sirsaeba, Anif. 2008. Dalam Perjamuan Cinta. Jakarta: Penerbit Replubika

 

[1] This Paper presented at the International Scientific Meeting On Arabic Language (ISMLA X), State Islamic University, Pontianak, Indonesia, 2016.

[2] Arabic lecturer of  the Faculty of Humanities, University of Indonesia.

[3] This Paper presented at the International Scientific Meeting On Arabic Language (ISMLA X), State Islamic University, Pontianak, Indonesia, 2016.

[4] https://www.academia.edu/19331100/cerpen_terjemah_arinillah_karya_taufik_al_hakim.

[5] Anif, Sirsabea. 2008. Dalam Perjamuan Cinta. Jakarta: Penerbit Replubika.

[6] Dalam daftar karya Taufiq al-Hakim, ada dua judul lain yang dihubungkan dengan tema filsafat, yakni Hadis ma’a al-Kawkab  ( مع الكوكب   )   dan  Al-Ta’adiliyyah ma’a al-Islam wa al-Ta’adiliyyah (  التعادليه من الإسلام والتعادلية  ) kedua judul ini tidak disebutkan sebagai cerpen, jadi dimungkinkan termasuk teks esai. Lihat al-Hakim, hlm.5.

[7] Al-Hakim, Taufiq.  أرني الله   (pdf), hal. 6-9.

[8] Transenden:  hal-hal yang melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta. Contohnya, pemikiran yang mempelajari sifat Tuhan yang dianggap begitu jauh, berjarak dan mustahil dipahami manusia.

[9] imanen, berarti hal-hal yang meresapi apa pun yang ada, tak ada tempat di dunia ini di mana yang ilahi tidak hadir di situ.

[10]  Jenis pertanyaan untuk tujuan melemahkan dalam Ilmu Ma’ani disebut  istifham istibta ( الاستفهام للا ساتبطاء) , lihat al-Jarim, Ali dkk. Al-Balaghah al-Wadihah. 1951. Hlm.199. dan terjemahan al-Balaghatul Waadihah, 2010. Hal. 278.

Advertisements

Manfaat beristiqomah dalam hidup

Istiqomah adalah sebuah komitmen dalam menjalankan satu program untuk menuju satu tujuan. Istiqomah itu mengandung:

1) konsisten, sehingga secara terus menerus apa yang dianggap baik itu dijalankan,

2) tahan uji kepada godaan-godaan yang mungkin menjadi penghambat, menjadi halangan kita sampai pada tujuan yang cita-citakan.

Dalam kaitan dengan fokus, hidup ini dianjurkan oleh agama kita untuk memiliki tujuan. Allah berfirman bahwa tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada-Nya. Itu tujuan hidup kita. Kemudian juga Allah mengingatkan bahwa kita diturunkan ke bumi sebagai umat yang terbaik..

Tapi apa syaratnya untuk menjadi ummat yang terbaik? Syaratnya adalah fokus kepada sesuatu yang menjadi cita-cita hidup kita karena hal itu yang akan menggerakkan seluruh hidup kita ke arah cita-cita tersebut. Kalau gak tahu apa yang dituju, pasti akan goyah. Dapat ujian sedikit sudah limbung.

Istiqomah itu menyertai keimanan. Iman naik dan turun, ujian datang dan pergi. Lalu bisa juga disebut bahwa istiqomah itu salah satu ciri keimanan kita teruji atau tidak. Ketika kita tidak istiqomah, bisa dikatakan memang bahwa keimanan kita tidak teruji dengan baik. Memang istiqomah menjadi suatu kondisi, suatu benteng untuk menunjukkan ketundukan kita kepada Allah. Indikator keberagamaan kita atau ketakwaan itu memang ada pada sikap istiqomah. Menjalankan sesuatu, sendirian atau ramai-ramai, diberi reward tidak diberi reward, sikapnya sama saja. Itulah sikap orang yang istiqomah, yang dibalut dengan perilaku ikhlas sebagai hamba.

Dalam suatu hadits diceritakan, sahabat Abdullah al-Tsaqafi meminta nasihat kepada Nabi Muhammad saw agar dengan nasihat itu, ia tidak perlu bertanya-tanya lagi soal agama kepada orang lain. Lalu, Rasulullah saw bersabda, ”Qul Amantu Billah Tsumma Istaqim” (Katakanlah, aku beriman kepada Allah, dan lalu bersikaplah istiqamah!). (H.R. Muslim)

Hadtis tersebut mengajarkan kita untuk senantiasa beriman kepada Allah swt serta menjalani semua perintah-Nya. Orang yang tidak memiliki sifat istiqomah sangatlah merugi karena akan sia-sia semua usaha dan perjuangannya.

Kiat-kiat Mewujudkan Sikap Istiqomah

  1. Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Ketika beramal, tiada yang hadir dalam jiwa dan pikiran kita selain hanya Allah dan Allah. Karena keikhlasan merupakan pijakan dasar dalam bertawakal kepada Allah. Tidak mungkin seseorang akan bertawakal, tanpa diiringi rasa ikhlas.
  2. Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan. Seperti dalam bertilawah Al-Qur’an, dalam qiyamul lail dan lain sebagainya; hendaknya dimulai dari sedikit demi sedikit, kemudian ditingkatkan menjadi lebih baik lagi.
  3. Diperlukan adanya kesabaran. Karena untuk melakukan suatu amalan yang bersifat kontinyu dan rutin, memang merupakan amalan yang berat. Karena kadangkala sebagai seorang insan, kita terkadang dihinggapi rasa giat dan kadang rasa malas. Oleh karenanya diperlukan kesabaran dalam menghilangkan rasa malas ini, guna menjalankan ibadah atau amalan yang akan diistiqamahi.
  4. Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
  5. Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Oleh karenanya dalam beristiqamah seseorang benar-benar harus mentauhidkan Allah dari segala sesuatu apapun yang di muka bumi ini. Karena mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.
  6. Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut. Sehingga ibadah tersebut terasa nikmat kita lakukan. Demikian juga sebaliknya, jika kita merasakan ‘kehampaan’ atau ‘kegersangan’ dari amalan yang kita lakukan, tentu hal ini menjadikan kita mudah jenuh dan meninggalkan ibadah tersebut.
  7. Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengingatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.
  8. Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para Nabi, sahabat dan orang-orang shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.
  9. Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak bisa. Buah Istiqamah

Istiqamah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :

  1. Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)
  2. Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan motivasi dan pertolongan Allah SWT.
  3. Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt. Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
  4. Berdasarkan hadits di atas, kita juga diperintahkan untuk senantiasa beristiqamah. Ini artinya bahwa Istiqamah merupakan pengamalan dari sunnah Rasulullah saw.
  5. Istiqamah merupakan ciri mendasar orang mukmin. Dalam sebuah riwayat digambarkan: Dari Tsauban ra, Rasulullah saw. bersabda, ‘istiqamahlah kalian, dan janganlah kalian menghitung-hitung. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidak ada yang dapat menjaga wudhu’ (baca; istiqamah dalam whudu’, kecuali orang mukmin.) (HR. Ibnu Majah)

Ciri-ciri orang yang memiliki sifat istiqomah

  1. Konsisten dalam memgang teguh aqidah tauhid
  2. Konsisten dalam menjalankan ibadah baik mahdoh atau ghoiru mahdoh.
  3. Konsisten dalam menjalankan syariat agama, melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan
  4. Konsisten dalam bekerja dan berkarya, dengan tulus dan ikhlas karena Allah swt.
  5. Konsisten dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan

Allah swt menjanjikan balasan yang besar kepada orang-orang yang istiqomah. “Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Ahqaf:13-14). Semoga kita bisa istiqamah dalam segala hal. Amin

 

 

 

 

Amanah

Rasulullah saw. bersabda, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)

Amanah adalah kata yang sering dikaitkan dengan kekuasaan dan materi. Namun sesungguhnya kata amanah tidak hanya terkait dengan urusan-urusan seperti itu. Secara syar’i, amanah bermakna: menunaikan apa-apa yang dititipkan atau dipercayakan. Itulah makna yang terkandung dalam firman Allah swt.: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah-amanah kepada pemiliknya; dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkan hukum dengan adil.” (An-Nisa: 58)

Ayat di atas menegaskan bahwa amanah tidak melulu menyangkut urusan material dan hal-hal yang bersifat fisik. Kata-kata adalah amanah. Menunaikan hak Allah adalah amanah. Memperlakukan sesama insan secara baik adalah amanah. Ini diperkuat dengan perintah-Nya: “Dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkan hukum dengan adil.” Dan keadilan dalam hukum itu merupakan salah satu amanah besar.

Itu juga diperjelas dengan sabda Rasulullah saw., “Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.”(Muttafaq ‘Alaih)

Dan Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun mereka menolak dan khawatir untuk memikulnya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim lagi amat bodoh.” (Al-Ahzab 72)

Dari nash-nash Al-Qur’an dan sunnah di atas nyatalah bahwa amanah tidak hanya terkait dengan harta dan titipan benda belaka. Amanah adalah urusan besar yang seluruh semesta menolaknya dan hanya manusialah yang diberikan kesiapan untuk menerima dan memikulnya. Jika demikian, pastilah amanah adalah urusan yang terkait dengan jiwa dan akal. Amanah besar yang dapat kita rasakan dari ayat di atas adalah melaksanakan berbagai kewajiban dan menunaikannya sebagaimana mestinya.

Amanah dan Iman

Amanah adalah tuntutan iman. Dan khianat adalah salah satu ciri kekafiran. Sabda Rasulullah saw. sebagaimana disebutkan di atas menegaskan hal itu, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)

Barang siapa yang hatinya kehilangan sifat amanah, maka ia akan menjadi orang yang mudah berdusta dan khianat. Dan siapa yang mempunyai sifat dusta dan khianat, dia berada dalam barisan orang-orang munafik. Disia-siakannya amanah disebutkan oleh Rasulullah saw. sebagai salah satu ciri datangnya kiamat. Sebagaimana disampaikan Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya–, Rasulullah saw. bersabda, “Jika amanah diabaikan maka tunggulah kiamat.” Sahabat bertanya, “Bagaimanakah amanah itu disia-siakan, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” (Al-Bukhari)

 

Macam-macam Amanah

Pertama, amanah fitrah. Dalam fitrah ada amanah. Allah menjadikan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan. Karenanya, fitrah selaras betul dengan aturan Allah yang berlaku di alam semesta. Allah swt. berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al-A’raf: 172)

Akan tetapi adanya fitrah bukanlah jaminan bahwa setiap orang akan selalu berada dalam kebenaran dan kebaikan. Sebab fitrah bisa saja terselimuti kepekatan hawa nafsu dan penyakit-penyakit jiwa (hati). Untuk itulah manusia harus memperjuangkan amanah fitrah tersebut agar fitrah tersebut tetap menjadi kekuatan dalam menegakkan kebenaran.

Kedua, amanah syar’iyyahi (amanah yang diembankan oleh syari’at). Allah swt. telah menjadikan ketaatan terhadap syariatnya sebagai batu ujian kehambaan seseorang kepada-Nya. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan fara-idh (kewajiban-kewajiban), maka janganlah kalian mengabaikannya; menentukan batasan-batasan (hukum), maka janganlah kalian melanggarnya; dan mendiamkan beberapa hal karena kasih sayang kepada kalian dan bukan karena lupa.” (hadits shahih)

Ketiga, amanah mau’izatu hasanah : menjadi bukti keindahan Islam. Setiap muslim mendapat amanah untuk menampilkan kebaikan dan kebenaran Islam dalam dirinya. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menggariskan sunnah yang baik maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang rang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (Hadits shahih)

Keempat, amanah dakwah. Selain melaksanakan ajaran Islam, seorang muslim memikul amanah untuk mendakwahkan (menyeru) manusia kepada Islam itu. Seorang muslim bukanlah orang yang merasa puas dengan keshalihan dirinya sendiri. Ia akan terus berusaha untuk menyebarkan hidayah Allah kepada segenap manusia. Amanah ini tertuang dalam ayat-Nya: “Serulah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (An-Nahl: 125)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan usaha Anda, maka hal itu pahalanya bagi Anda lebih dibandingkan dengan dunia dan segala isinya.” (al-hadits)

Kelima, amanah untuk mengukuhkan kalimatullah di muka bumi. Tujuannya agar manusia tunduk hanya kepada Allah swt. dalam segala aspek kehidupannya. Tentang amanah yang satu ini, Allah swt. menegaskan: “Allah telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya.” (Asy-Syura: 13)

Keenam, amanah tafaqquh fiddin (mendalami agama). Untuk dapat menunaikan kewajiban, seorang muslim haruslah memahami Islam. “Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (At-Taubah: 122)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/05/08/171/amanah/#ixzz2zrIyP7oi 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Meningkatkan keimanan dan semangat berkorban

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,

 

Alhamdulillah pagi ini kita dapat berkumpul, menyambut sinar mentari, sejuknya hawa pagi dihiasi alunan takbir, mengagungkan asma Ilahi Rabbi, dirangkai dengan dua raka’at Idul Adha sebagai upaya mendekatkan diri kita kepada Yang Maha kuasa.

Marilah kita bersama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah swt dengan sepenuh hati. Kita niatkan hari ini sebagai langkah awal memulai perjalanan diri mengarungi kehidupan yang lebih baik, lebih rajin, lebih sabar dan lebih taat, seperti yang tercermin dalam kebaikan, kerajinan, kesabaran dan keta’atan Nabi Allah Ibrahim as.

Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah

Hari ini adalah hari yang penuh berkah, hari yang sangat bersejarah bagi umat beragama di seluruh penjuru dunia, dan bagi umat muslim pada khususnya. Karena hari ini merupakan hari kemenangan seorang Nabi penemu konsep ke-tuhidan dalam berketuhanan. Sebuah penemuan maha penting dijagad raya, tak tertandingi nilainya dibandingkan dengan penemuan para santis dan ilmuan. Karena berkat konsep ke-tauhidan yang ditemukan Nabi Ibrahim, manusia dapat menguasai alam dengan menjadinya khalifah di muka bumi ini.

 

 

Setelah Nabi Ibrahim as menyadari bahwa Allah swt adalah – al-wahidul ahadus samad- The Absolute One, Dzat yang paling Esa, maka semenjak itu juga umat manusia tidak dibenarkan menyembah makhluk, seperti matahari, bulan,  bintang, hewan, menyembah pohon batu  dan lain-lain.  Ini artinya manusia telah memposisikan dirinya di atas alam. Ajaran ke-Esa-an yang diprakarsai oleh Nabi Ibrahim telah mengangkat derajat manusia atas alam dan degala isinya.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Tidak berlebihan jika hari ini kita jadikan sebagai hari besar kemanusiaan internasional yang harus diperingati oleh manusia se-jagad raya. Oleh karena itu hari ini adalah momen yang tepat untuk mengenang perjuangan Nabi Allah Ibrahim as dan upayanya menemukan Allah swt. Bagaimana beliau bersusah payah melatih nuraninya, mengasah hatinya, mendalami batinnya untuk mengenal Tuhan Allah Yang Paling Berkuasa.

Bukankah itu hal yang amat sangat rumit? Apalagi jika kita membandingkan posisi manusia sebagai makhluk yang hidup dalam dunia kebendaan, sedangkan Allah Tuhan Yang Maha Sirr berada ditempat yang tidak dapat dicapai dengan indera? Bagaimana Nabi Allah Ibrahim bisa menemukan-Nya? Tentunya melalui berbagai jalan thariqah yang panjang.  Melalui latihan dan penempaan jiwa yang berat. Untuk itulah mari kita lihat rekaman tersebut dalam surat Al-An’am ayat 75-79

 

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ(75)  فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ  (76)فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(78)  إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)

 

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. (75)

 

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam “ (76)

 

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (77)

 

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (78)

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (79)

 

 

Para Hadirin yang dimuliakan Allah

 

Jika kita lihat dokumen sejarah yang termaktub dalam al-Qur’an di atas, hal ini menunjukkan betapa proses pencarian yang dilakukan Nabi Allah Ibrahim as sangatlah berat. Meskipun pada akhirnya Nabi Ibrahim berhasil menemukan Tuhan Allah Rabbil Alamin, bukan tuhan untuk satu suku dan bangsa tertentu, tapi Tuhan seru sekalian alam. Tuhan yang senantiasa berada sangat dekat dengan manusia baik ketika terpejam maupun ketika terjaga. Itulah sejarah terbesar yang dilakukan oleh Nabi Allah Ibrahim di sepanjang relief kehidupan umat manusia yang seharusnya selalu dikenang oleh umat beragama.

Selain sebagai orang yang menemukan konsep Ketuhaan. Beliau juga salah satu hamba tersukses di dunia yang mampu menaklukkan nafsu dunyawi demi memenangkan kecintaannya kepada Allah Sang Maha Suci. Fragmen ketaatan dan keikhlasannya untuk menyembelih anak tercinta –Ismail as –  adalah bukti kepasrahan total kepada perintah Allah swt. Bayangkan saudara-saudara, Ismail adalah anak yang telah lama dinanti dan diidamkan, Ismail adalah anak tercintanya, lalu Allah menyuruhnya untuk dihilangkan dengan cara disembelih ayahnya sendiri – ini perintah yang tidak masuk akal, ini perintah yang keterlaluan, ini perintah yang sangat berat  untuk dilaksanakan. Namun demikian semua itu ditundukkan oleh Nabi Ibrahim as demi memenangkan kecintanya kepada Allah swt.

 

 

Nabi Ibrahim  adalah sosok yang penuh dengan keteladanan bagi kita.

Waktu remaja berusaha mencari Tuhan yg hrs disembah. Menyaksikan penduduk zamannya menyembah berhala. Setelah beriman kepada Allah, ia mengadakan reformasi keimanan bagi masyarakatnya.Menumbangkan berhala yang disembah itu.

Waktu dewasa ia melakukan hijrah  dari satu tempat ke tempat lain berdakwah menyebarkan kebenaran ajaran agama Allah.

Sebagai bapak: sabar menjalani hidup. Istri nya siti Sarah tidak dapat memberinya seorang anak, menyuruhnya untuk  nikah dengan siti Hajar seorang pembantunya: dari siti Hajar lahir seorang putera yaitu Ismail.

Ismail adalah putera kesayangan Ibrahim, karena sudah begitu lama ia mendambakan seorang putera.

Kisah nabi Ibrahim dan puteranya Ismail diabadikan  dalam QS as-Safat: 102-107.

فلمابلغمعهالسعيقاليابنيإنيأرىفيالمنامأنيأذبحكفانظرماذاترى. قالياأبتافعلماتومرستجدنيإنشاءاللهمنالصابرين.

 

Di saat putera yang didambakan kehadirannya melalui do’a yang panjang, menginjak usia dewasa, datanglah ujian besar, yang luar biasa beratnya kepada Nabi Ibrahim. Dalam mimpinya, Beliau diperintah menyembelih putera tercintanya oleh Allah: wahai anakku ……

Ismail tipe anak yang patuh kepada orang tua.

Ia tidak sulit memahami keingingan sang ayah. Ia hanya membutuhkan waktu sekejap untuk merenungkan ucapan ayahnya.  Ia langsung merespon niat baik oranhg tua, Dengan berharap bahwa ia akan menjadi orang yang sabar.

Pada saat mereka telah berada di puncak penyerahan diri secara total, Ibrahim dengan mantap meletakkan sebilah pisau  di leher sang anak kesayangannya. Allah berfirman. Qs as-safat 104-107

 

وناديناهأنياإبراهيمقدصدقتالرؤياإناكذالكنجزيالمحسنين. إنهذالهوالبلأالمبين. وفديناهبذبحعظيم.

Dan kami memanggil dia: Ya Ibrahim, kamu telah membenrkan mimpimu itu. Ssg demikianlah kamu memberi balasan kepada orang-orang  yang berbuat baik. Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.

وتركناعليهفيالأخرين. سلامعلىإبراهيم. كذالكنجزيالمحسنين. إنهمنعبادناالمؤمنين.

Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di alangan orang-orang yang datang kemudian. Yaitu kesejahteraan dilimpahkan kepada Ibrahim.

Allahu akbar.

Hikmah dari Idul Adha atau Idul qurban bagi kita.

Pendidikan keluarga/ semangat berkurban di kalangan umat Islam. Untuk kemajuan Islam sejajar dengan umat-umat agama lain.

Kita yang menjadi orang tua,  hendaknya terus berusaha keras mendidik anak-anak menjadi manusia-manusia  yang beriman, berakhlak mulia dan berbudi luhur, memiliki masa depan yang cerah, penuh dengan optimisme berani berjuang menghadapi masa depan yang penuh tantangan.

Bagi para remaja dan anak-anak kami tercinta, hendaknya kalian menjadi anak-anak yang patuh kepada orang tua, hormat kepada guru, tahu adab sopan santun, tidak melawan apalagi menyakiti hati orang tua, yang telah membesarkan kalian.

Adik-adik dan anakku sekalin berusahalah kalian menjadi kebanggan orang tua, menjadi penyejuk hati orang tua, dengan meraih prestasi yang tinggi di dalam pendidikan dan pekerjaan.

Sekali-kali jangan mencoreng nama baik keluarga, atau memalukan orang tua dengan kegiatan yang tercela.

 

 

 

 

 

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Penyembelihan terhadap Ismail yang kemudian diganti dengan kambing merupakan tanda bahwa semenjak itu tidak ada lagi proses penyembahan dengan cara pengorbanan manusia (sesajen). Karena manusia adalah makhluk mulia yang tak pantas dikorbankan secara cuma-cuma, meskipun dilakukan dengan suka rela. Allah swt sendiri yang tidak memperbolehkannya, dengan Kuasa-Nya ia ganti Ismail dengan seekor gibas, kambing.

 

Itulah beberapa hal yang harus dikenang dari Nabi Allah Ibrahim as. Sebagai umat manusia yang beriman dan beragama,  sudah sewajibnya kita mengenang dan meneladani apa yang dilakukan Nabi. Ibahim as seperti yang diterangkan dalam al-Baqarah 127:

 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

 

Dengan kata lain Allah swt menganjurkan manusia untuk mengingat dan meneladai kehidupan Ibrahim terutama ketika Nabi Allah Ibrahim as merawat dan merekontruksi ka’bah sebagai baitullah. Sehingga berbagai ibadah dan ritual peyembahan kepada Allah swt menjadi kewajiban bagi umat muslim sedunia yang mampu menjalankannya. Itulah ibadah Haji.

 

Para Jama’ah idhul adha yang berbahagia

 

Haji merupakan salah satu ibadah yang sarat dengan simbol dan perlambang.

Kaum muslimin dan muslimat, meskipun saat ini kita berada di sini, jauh dari tanah Haram, tidak berarti kita tidak bisa meneladani Nabi Ibrahim. Karena keteladanan itu tidaklah bersifat fisik. Namun sejatinya keteladanan itu berada dalam semangat yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Keteladanan atas ibadah haji dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika kita berinteraksi dengan tetangga, teman, saudara dan umat manusia pada umumnya.

 

Firman Allah dalam alQur’an.

ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا.أل عمران 97

وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتين من كل فج عميق . ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في أيام معلومات على مارزقهم من بهيمة الأنعام  فكلوا منها وأطعموا البائس الفقير.الحج -27-30.

Berserulah kpd manusia  tuk mengerjakan haji, niscaya mrk datang kpdmu dg bjalan kaki dan berkendaraan. Mrk dtng dr segenap penjuru dunia yg jauh.

Spy mrk menyaksikan brbagai manfaat untuk diri mereka, dan spy menyebut nama allah pd hr yang ditentukan, atas rizki yg allah berikan. Berupa  hewan binatang ternak. Makanlah sbgian drpdnya dan sbg lain berikan tuk dimakan orang fakir dn mmbtuhkan.

Saudara-saudaraku seiman yang dirahmati Allah

 

Ibadah Haji dimulai dengan niat yang dibarengi dengan menanggalkan pakaian sehari-hari untuk digantikan dengan dua helai kain putih yang disebut dengan busana ihram. Maka ketahuilah dibalik keseragaman ini tersimpan beragam makna.

Pertama, bahwa pakaian yang selama ini kita pakai sehari-hari sangat menunjukkan derajat dan status sosial kita.  Oleh karena itu, ketika seorang muslim telah berniat untuk haji dan berniat menghadap-Nya maka segeralah tanggalkan pakaian itu dan gantilah dengan busana Ihram yang serba putih, symbol dari kebersihan hati, tak ada perasaan riya iri dan engki, karena manusia di hadapan Ilahi Rabbi sejatinya tidak berbeda.

 

Kedua, Pakaian itu tidak hanya apa yang kita pakai namun juga identitas yang menyelimuti diri manusia dari segala kekurangan. hendaknya segera diluluhkan ketika menghadap-Nya. Allah tidak akan pernah membedakan antara pejabat dan rakyat, antar penguasa dan hamba, antara pedagang, petani, nelayan, bahkan hingga kuli panggul. Semua itu dimata Allah swt adalah sama. Seperti putihnya seragam yang membalut raga.

المسلمون إخوة لافضل لأحد على أحد إلابالتقوى (رواه الطبرانى)

Artinya, orang-orang Islam itu satu sama lain bersaudara, tiada yang lebih utama seorangpun dari seorang yang lain, melainkan karena taqwanya (HR. Tabhrani)

 

Ketiga, Pakaian itu adalah sifat manusia. Ketika seorang muslim telah berniat melakukan ibadah haji, berarti ia akan menghadap Allah Sang Maha Kuasa, hendaklah ia mencopot segala identitasnya. Baik positif maupun negative, yang baik maupun yang buruk. Yang tinggi maupun yang rendah.  Sebagai singa,  kuda, tikus, buaya, serigala ataupun identitas sebagai kupu-kupu, merpati ataupun kasuwari. Artinya, segala macam sifat yang melekat baik negative maupun positif sebaiknya dihilangkan. Jangan pernah merasa sebagai apa-apa jikalau kita menghadap-Nya.

 

Keempat, pakaian itu mengingatkan manusia akan ketakberdayaannya. Nanti ketika menghadap Ilahi Rabbi manusia tidak membawa apa-apa kecuali kain putih yang menemaninya. Sebagai pertanda bahwa sebaiknya manusia hidup dengan sederhana, karena semua akan ditinggalkannya.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Selanjutnya Thowaf mengelilingi ka’bah tujuh kali putaran adalah perlambang kedekatan manusia dengan Sang Khaliq. Begitu harunya jiwa manusia ketika lebur mendekatkan diri pada Baitullah, seolah ke-dirian manusia hilang ditelan kebesaran-Nya. Thowaf dapat diartikan hilangnya diri terhanyut dalam pusaran Energi keilahiyan yang tak terkira. Thowaf adalah simbol hablum minallah yang hakiki, bahkan lebih dari itu. Tidak ada lagi habl penghubung antara manusia dan Sang Khaliq. Karena keduanya telah menyatu.

 

Kemudian sa’i berlari kecil dari shofa ke marwah. Ini merupakan rangkaian setelah Thowaf yang dapat diartikan sesuai perspketif sejarah. Ketika Siti Hajar Ibunda Nabi Ismail ditinggal oleh Nabi Allah Ibrahim as. Maka ia pun harus bertarung mempertahankan hidup ini dengan mencari air dari bukit Shofa ke Marwa. Kehidupan sarat dengan perjuangan. Usaha menjadi suatu kewajiban bagi manusia. Tiada air yang turun dari langit, namun air itu harus dicari sumbernya. Begitulah kehidupan di dunia ini. Hidup itu suci dan harus dijaga seperti makna hafiah kata Shofa  yaitu kemurnian dan kesucian sedangkan. Namun hidup itu juga cita-cita yang jumawa dan penuh idealism seperti makna kata marwa yaitu kemurahan, memaafkan dan menghargai.

 

Jika thowaf menggambarkan hubungan dan kemanunggalan manusia dengan Sang Khaliq, maka sa’i menunjukkan bahwa kehidupan haruslah dijalani sesuai dengan hukum kemanusiaan. Berinteraksi, berhubungan dan berkomunikasi dengan sesame. Maka kehidupan ini haruslah menyeimbangkan antara keilahiyahan dan keinsaniyahan.

Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia

Selain itu simbolisme dalam ibadah haji juga melekat pada Ka’bah Baitullah. Di sana ada hijir Ismail yang berarti ‘pangkuan Ismail’. Di sanalah seorang Ismail putera Ibrahim yang membangun Ka’bah pernah berada dalam pangkuan sang Ibu Hajar, seorang wanita hitam yang miskin juga seorang budak. Dengan ini Allah swt membuktikan bahwa seorang hamba pun dapat dimuliakanya dengan memposisikan kuburnya disamping ka’bah baitullah. Itu semua karena ketaqwaannya. Ketaqwaan Ibu Hajar yang mampu berhijrah menuju kebaikan dan kemuliaan.

 

Sedangkan padang Arafah sebagai tempat para haji menunaikan wuquf merupakan ruang luas yang terhampar untuk melatih diri seorang muslim hingga ia mengenal siapa jati dirinya yang sebenarnya.  Arafah adalah ruang berintrospeksi diri, siapa, dari mana sosok diri itu dan hendak kemana nantinya. Oleh karena itu ruang ini dinamakan arafah yang mempunyai satu asal kata yang sama dengan ma’rifat yaitu mengetahui dan mengerti hakikat diri. Diharapkan setelah dilatih dalam padang arafah ini seorang diri bisa menjadi lebih arif (bijaksana) dalam mengarungi kehidupan dan mempertimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat seperti yang disimbolkan dalam thowaf dan sa’i.

Dari Arafah menuju Muzdalifah guna mempersiapkan diri dan mempersenjatainya dengan mengumpulkan kerikil untuk dilontarkan di jumrah di Mina. Ini merupakan symbol melawan godaan syaithan yang dihadapi manusia.  Manusia haruslah selalu waspada bahwa syaitan ada dimana-mana. Karena itulah senjata pemusnahnya tidaklah sesuatu yang besar dan menakutkan. Tetapi cukup dengan kerikil yang kecil sebagai simbol atas kesabaran dan keteguhan hati.

Ma’asyiral Muslimin

Sebagai kesimpulan dari khutbah ini

Saya mengajak diri saya dan hadirin pada umumnya untuk, dapat mengambil hikmah dari hari raya ini dari idulqurban ini, dari perjuangan dan ketaatan Nabiyullah Ibrahim berkorban melaksanakan perintah Allah.

Dengan Idul Adha ini, Insya allah, kita akan dapat meneladani kebaikan Nabi Ibrahim.Iman kita semakin kokoh, ibadah kita semakin rajin, dan semangat berkorban semakin tinggi

Kita mendabakan Keluarga yang harmonis, saling memahami dan saling mengerti, rumah tidak lagi menjadi tempat yang menggelisahkan, rumah tidak lagi menjadi neraka, tetapi menjadi surga yang penuh bahagia bagi semua anggota keluarga.

Semuanya  saling membantu dan membahagiakan satu sama lain. Rumahku adalah surgaku.

Insya allah akan tercipta keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah di bawah rida Allah swt.

Dari keluarga yang skinah itu, insya allah akan lahir generasi penerus yang cemerlang, dapat meraih sukses  di masa depan.

Dari keluarga-keluarga yang sakinah, akan tumbuh masyarakat yang aman, penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan. Masyarakat yang maju dan menjunjung tinggi akhlakul karimah.

Akhirnya akan tercipta Baldatun tayyibatun wa rabbun gafur.negeri yang adil dan makmur serta dilindungi Allah swt.

Demikianlah uraian dalam khutbah ini semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Dan akhirnya marilah kita semoga kita yang disini diberikan kesempatan melaksanakan ibadah Haji mengunjungi tanah haram di tahun-tahun mendatang, seperti cita-cita kita semua. Dan semoga mereka yang berada di sana diberi keselamatan dan kembali ke tanah air dengan mendapat gelar Haji yang mabrur. Amien

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khutbah Kedua:

 

 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ.

والحمد لله رب العالمين.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

 

 

 

 

 

 

Marilah kita memanjatkan doa kepada Allah swt. Untuk kebahagiaan kita dan keluarga kita dunia akhirat.

Allahmmagfir lilmuslimin wal…..

Ampuni dosa orang Islam …..

 

Ya tawwab ya wasi’al magfirah…

Ampuni …dosa kami,  para guru, org2 yg berbuat baik kpd, terutama ortu..

Beri kami kekuatan ….tuk sll mematuhi perintah, dan menjauhi laranganmu.

Terimalah sgala amal ibadah kami, salat, puasa, zakat, haji kami, serta sedekah, qurban kami. Jadikan semuanya menjadi  amal salih yang mendatangkan rahmat dan ridamu di dunia hingga akhirat nanti..

 

Ya muqallibal qulub sabbit qulubana ala dinik wa ala ta’atik.

Jadikan kami … hmb2mu yg salih, yng selalu menjunjung tinggi ajaranmu.

Jadikan keluarga kami …sakinah, mawaddah, rahmah, penuh kasih dan saying dan ridamu.

Jadikan rumah kami  adalah surga bagi kami,  surga bagi suami, istri dan anak-anak kamii

Jadikan anak-anak kami …..salih, sehat jasmani dan rohani, patuh kpd ortu, taat ibadah kpd mu.

Jadikan lingkungan kami, lingkungan yang aman, tenang,  penuh dengan kedamaian dan ketentraman.

Tambahkan kepada kami, rizki yang hll,bnyk, dan berkah agar hdp kami tidak menderita.

 

Rabbana la tu’akhizna in nasina au akhta’na. wala tahmil alaina isran..

Wala tuhammilna mala takata lana bih.

Jangan kau hukum kami jika kami lupa atau salah,

Jangan kau bebankan kpd kami beban berat sbg mana umat sebelum kami.

Jangan kau bebankan kpd kami beban brt yng kami tak kuat memikulnya.

Jauhkan diri kami dari ….. syirik dan dr kufur atas segala nikmatmu.

Jauhkan diri kami dari sifat-sifat buruk, riya, takabur dan iri hati.

 

Rabbana zalamna anfusana ….

Kami telah menzalimi diri kami sendiri,

jika tidak engkai ma’afkan niscaya kami menjadi orang2 yang rugi.

Kami tdk kuat menanggung beban penderitaan atas segala musibah

Kami tk sanggup menerima azab dan cobaan darimu.

Kami tk kuasa menerima murka, dan siksaan darimu.

Andaikan bukan karena kasihmu, niscaya kami menjadi orang yang merugi.

 

Yallah biha bihusnil khatimah

Jadikan akhir hayat kami dalam keadaan husnul khatimah.

Bebas dari penderitaan api neraka,

Diakhirat berhasil meraih  magfirah dan kebahagiaan di dalam  surgamu.

 

Rabana atina …..

Berikanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat.